#StillCrazyAfterAllTheseYearsTOUR – Day 1 & 2


foto bg 1Tur Konser AriReda berlangsung dan telah selesai Kamis malam, di Makassar, 19 Mei 2016. Tepat seminggu setelah dimulai pada tanggal 13 Mei, 2016 di coffeewar, Jakarta.

Rencananya saya ingin membuat catatan setelah habis main di setiap titik. Mumpung semua peristiwa masih tergambar jelas, apa daya setiap kali habis main, sudah terlanjur lapar dan lelah dan mengantuk. Sehingga menulis jadi terlewatkan. Akhirnya, setelah kembali pada jam kerja pegawai, waktu untuk menulis datang juga. Mari kita mulai dari kota pertama.

Jakarta: coffeewar
Jumat itu, langit bersih seperti hari sebelumnya. Sekolah di depan rumah saya tak ada keramaian. Suara Pak Kepala Sekolah lewat TOA di upacara pagi yang biasa mengingatkan saya untuk segera berangkat, tak terdengar. Sepi. Tapi hati saya gemuruh sejak entah kapan. Penyebabnya cuma satu: #StillCrazyAfterAllTheseYears dimulai malam ini, di coffeewar, Kemang Timur. Tempatnya Yogi D. Sumule.

Mengapa coffeewar? Begini, sekitar delapan sembilan tahun lalu, seorang teman – Dik Ewink– minta saya menemui sahabatnya. Hari dan jam ditentukan, Ewink malah tak bisa hadir. Maka saya sendiri menemui temannya: Yogi D. Sumule. Ia bercerita banyak tentang kopi, tentang lagu puisi, dan berakhir dengan mengajak AriReda bermain di coffeewar. Tawarannya tak serta merta disambut, karena satu dan lain hal yang belum beres pada kami berdua. Baru setelah lewat tiga tahun, AriReda main di sana. Dan di tempat ini pula kami mulai berkenalan dengan teman-teman baru, muda yang begitu antusias pada lagu-lagu kami. Energi dan kehangatan yang terus dipancarkan coffeewar membuat kami mulai berpikir untuk lebih sering bermain.

Kembali urusan tur, Ari sudah bersiap sejak jam 3 siang di coffeewar. Sementara saya baru sampai sekitar jam 5 sore, setelah naik ojek dari kantor (tak ingin kehabisan hari cuti, saya putuskan mengantor full hari itu). Setiba di coffeewar, sudah ada Agus Leonardi yang membantu mengatur sound. Felix menguasai meja terbesar, memenuhinya dengan CD EP kami. Sambil menunggu, saya mengisi waktu dengan mengupas kencur dan membantu membungkus CD.

Sore itu, ceritanya, saya janjian dengan Ricky Surya Virgana dari WSATCC. Ada satu kegiatan yang harus saya lakukan bersamanya. Apa daya, saya datang terlalu sore. Sehingga tempat sudah ramai, dan hiruk pikuk. Kegiatan yang satu itu tak terlaksana. Tetapiiiiiii justru dari sini muncul ide lain: mengajak Ricky memainkan cello-nya di satu-dua lagu AriReda. Kami pilih dua lagu: Nocturno dan Lanskap.

Berlatih dalam suasana ramai, memang kurang ideal. Tetapi karena yang berlatih itu dua orang yang punya telinga dan rasa yang tajam –Ari dan Ricky, dua lagu bisa dikuasai dalam waktu super singkat.

Yogi memutuskan membuka semua jendela kaca, tak ada batas ruang sejuk dan hangat, jernih dan berkabut. Semua berbaur. Meja untuk jual CD sudah disiapkan di sudut. Teman-teman berdatangan. Jantung saya makin keras berdebar. Rasanya ia hanya bergantung pada sehelai urat.

Menyanyi di depan penonton sudah kami jalani sejak belum punya pacar sampai punya anak umur 20-an. Sejak dahulu kala juga jantung saya selalu berlompatan ketika waktu semakin dekat. Tapi hari itu, lompatannya agak terlalu berlebihan. Berkali-kali saya harus menghela napas, mencoba menenangkan. Berbagai pikiran berlarian di kepala juga: bagaimana kalau hujan, bagaimana kalau mendadak senar gitar putus, bagaimana kalau suara habis, bagaimana kalau kaki saya menendang cello, bagaimana kalau saya kebelet pipis di tengah-tengah lagu nanti, bagaimana kalau…. Terlalu banyak “bagaimana kalau”. Panik. Parah.

Acara mulai 15 menit lepas jam 8 malam.
Teman-teman sudah duduk manis. Termasuk Mas Gufi dari Kongsi Jahat yang sudah mengambil posisi di sudut teras coffeewar. Yogi dan Felix membuka acara.

Kalau tak salah ingat, kami menyanyikan sekitar 15 lagu, dengan dua di antaranya bersama Ricky Virgana. Hati saya rontok ketika Nocturno dimainkan Ricky. Kacau balau perasaan, mata mendadak panas, wah repot ini! Panjang sedikit, nggak bisa nyanyi! Mati-matian menahan tangis supaya nggak kebablasan, soalnya perjalanan nyanyi malam itu masih panjang. Ingat kata Oprah: “Don’t let the ugly cry take over your face and voice!”

Ricky: kamu keren banget, sih!

Habis menyanyi, Felix mengingatkan bahwa jadwal berangkat dari Cengkareng jam 6.00 dari Cengkareng. Artinya, dari rumah harus jalan jam 4.30. Artinya, tidur harus lebih awal. Artinya, pulang sekaraaaaang! Tapi kegembiraan berkumpul dengan banyak teman, berkenalan dengan teman baru, bertukar cerita dengan teman lama…. Terlalu berat untuk dilepaskan. Alhasil perjalanan menuju rumah baru terlaksana menjelang tengah malam. Ari ikut pulang ke Rawamangun.

Sampai di rumah, ternyata tidak bisa langsung tidur. Baru ingat kalau koper yang sudah disiapkan beberapa minggu sebelumnya, saya bongkar untuk keperluan lain. Cita-cita mengatur pagi hari tadi, tapi bangun kesiangan. Walhasil baru beberes jam lewat 1 pagi. Hanya perlu 15 menit. Masuk kamar tidur jam 2. Bangun 2 jam kemudian. Berat!

Malang: Folk Music Festival
Alarm menjerit, sementara empuk bantal dan hangat selimut memeluk erat, tak ingin dilepaskan. Tapi mana boleh! Kalau sampai ketinggalan pesawat, Gan Felix bisa tirus mendadak. Mas Ed mengantar kami ke bandara yang ternyata sudah ramai di subuh itu.

Untuk perjalanan Malang, Surabaya dan Yogyakarta, kami berangkat berempat: Felix, Ari, Disty Nugroho, dan saya.

Semua lancar kecuali urusan gitar yang ternyata tak bisa masuk cabin (nggak kompak nih aturannya…. Kadang boleh, kadang nggak). Setelah dibebat plastik dan dipasang stiker FRAGILE sebanyak-banyaknya, kami lepaskan gitar masuk bagasi.

Sebetul-betulnya, saya sangat suka terbang di pagi hari begini, karena awan dan matahari di atas sana begitu indahnya. Tapi tanggal 14 pagi itu, dengan rela saya lewatkan pemandangan keren itu. Hasrat melanjutkan tidur lebih mendesak. Mari pejamkan mata.

Tiba tepat waktu, kami diantar ke hotel. Felix dan Ari satu kamar, saya dan Disthy di kamar yang lain. Dari depan Felix sudah bilang, kalau membahayakan teman seranjang, maka ia minta kamar dengan twin bed. Saya dan Disty tak merasa perlu punya twin bed. Disty bilang dia bisa tidur dengan manis. Saya pun (ternyata kenyataannya tidak demikian: saya tetap suka main silat dan merebut selimut sampai Disty nggak kebagian. Sementara AC menyembur kencang, bikin dingin. Maafkan.).

Karena tiba agak awal, kami bisa menyambung tidur sedikit sebelum cek sound. Bangun dengan perut agak lapar, kami berangkat ke Lembah Dieng. Wah cantiknya! Panggung menghadap tempat duduk bertingkat –amphitheater style. Kabarnya bisa muat sampai 5 ribu orang. Bukan main.

Habis cek sound, setelah makan nasi-sayur bening-gereh-tempe-sambel tomat yang juara rasanya dan ngobrol sebentar dengan Bie dan Vania dari Wake Up Iris, kami kembali ke hotel. Mandi (sambil mencuri tidur beberapa belas menit) lalu berangkat lagi.

Panggung Folk Music Festival di Lembah Dieng mulai terisi. Ketika kami datang, lebih dari sepertiga tempat duduk terisi. Sedikit-sedikit yang menonton bertambah. Sambil menanti, kami berkenalan dengan Herman yang datang khusus dari Palangkaraya untuk acara ini. Dia dititipi banyak pesanan teman-temannya yang tak bisa datang. Bukan main.

Sarita dari Teman Sebangku menemani mengobrol juga sebelum kami naik panggung.

Kami main setelah Little Lute yang seru.
Kalau boleh saya ingin duduk di tengah penonton saja, menikmati setiap sajian di panggung. Semua keren! Waktu naik panggung kian dekat, saya mendadak ingin pulang. Lutut dingin. Jari-jari bergetar. Bahaya. Tiang di tepi panggung saya peluk erat-erat. Pengen pulang saja rasanya.

Giliran kami tiba.
Intro Hujan Bulan Juni mengalun. Tiba-tiba tepuk tangan menggema.
Kami naik panggung. Menyapa Malang. Menyanyi entah berapa lagu, lupa. Dari panggung saya bisa melihat Sarita, Vania dan Herman beserta teman-temannya menemani kami menyanyi. Yang menonton sudah bertambah banyak, dan terus bertambah. Felix bilang saat itu sudah mencapai 1500-an orang. Jumlah penonton terbesar buat kami. Beberapa kepala menempel. Ada banyak kepala dan lengan menyangkut di bahu kekasih. Lamat-lamat terdengar suara teman-teman yang menonton ikut menyanyi. Banyak yang menutupkan mata, bibir bergerak-gerak menyebutkan syair. Ah, bahagianya kami sore itu.  Tak terhingga jumlah teman-teman baru yang kami temui di sini. Termasuk Cecilia dan Richie yang datang jauh-jauh dari Kuala Namu. Saya tak ingat berapa lagu yang kami nyanyikan.  Terlalu senang sampai tak menghitung (setlist berantakan sejak lagu ke tujuh).

Terima kasih Malang.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Tentang Tur Pertama Ini….


poster turBetul, Ari Malibu dan saya –Reda Gaudiamo- akhirnya berangkat tur. Untuk yang pertama kali dalam sejarah duet kami sejak terbentuk banyak tahun lalu.

http://www.malesbanget.com, memberi judul begini: Edan, Di Usia Kepala 5, Dua Musisi Malah Memulai Tur Nonstop 6 Kota!
(http://malesbanget.com/2016/05/edan-di-usia-kepala-5-dua-musisi-malah-memulai-tur-nonstop-6-kota/)

Membaca judulnya, saya jadi deg-degan. Mules.
Tiba-tiba saya disadarkan bahwa kami memang akan berangkat tur, ke enam kota, non-stop. Ini kegiatan kami mulai tanggal 14 Mei nanti: Berangkat→ Tiba→ Cek Sound→Main→Tidur→ Berangkat lagi → Tiba lagi → Cek Sound lagi → Main lagi→ Tidur… Begitu terus selama 6 hari.

Oh, sebentar, sebelum berangkat tanggal 14 Mei, malam sebelumnya, yaitu malam ini: 13 Mei, kami akan main dulu di CoffeeWar, sebagai konser pertama dari tur ini. Buat kami berdua, CoffeWar selalu jadi tempat istimewa. Karena di sinilah kami memutuskan untuk terus menyanyi. Di sini juga, kami akhirnya sepakat bahwa apa yang sudah kami mulai harus dilanjutkan. Adalah Yogi D. Sumule yang membantu kami melihat semua itu. Pintu kedainya yang selalu terbuka, wangi kopi yang selalu menyambut, kehangatan yang tak pernah putus membuat kami sadar bahwa ini bukan perjalanan iseng-iseng. Bahwa duet ini memang perlu dilanjutkan.

Kami berhutang pada banyak orang, teman-teman yang sempat mendengar, menyimak dan menyukai apa yang kami lakukan bertahun lalu. Bila tiba-tiba kami berhenti, dan memutuskan untuk menyudahi semua, berarti kami sudah menjadi orang paling egois yang pernah kami kenal. Walk on, we must.

Apa yang sudah kami mulai pada suatu ketika, yang sempat kami sendiri ragukan, tiba-tiba tumbuh, meninggi dan sebaiknya dibiarkan terus tinggi. Untuk itulah, kami memutuskan melakukan banyak hal. Mulai dari lebih sering bermain di tempat-tempat anak muda berkumpul, membuat rekaman album baru, show di Jerman dan Belanda, kemudian konser perdana atas nama AriReda, dan sekarang tur ke enam kota: Jakarta – Malang – Surabaya – Jogjakarta – Denpasar – Makassar.

Perjalanan cukup panjang bila dihitung jarak kilometernya. Felix Dass, yang mengatur semua ini, menulis di blog AriReda, bahwa tur direncanakan ketika ia sedang berlibur. Kelihatannya begitu nyaman. Tetapi saya tahu dan percayalah itu bukan hal gampang. Bahwa semua terjadi dalam waktu dekat, itu karena ada Felix menghubungi semua temannya, karena ada jaring saling silang yang mengikat semua pihak dalam nama musik Tanah Air. Tanpa itu semua, tur ini tak akan berlangsung. Banyak orang baik mengelilingi…. Terima kasih untuk kasih sayang yang diberikan tanpa henti ini. Friends: you are awesome!

Sekarang di hadapan poster tur yang sudah dicetak, album EP selesai diduplikasi, merchandise tertumpuk rapi di koper: debar jantung saya mendadak kencang. Saya –dan juga Ari Malibu—disadarkan bahwa ini bukan kegiatan lucu-lucuan di waktu luang sehabis kerja dan memanfaatkan cuti kantor yang tidak banyak lagi. Tur ini adalah keputusan besar yang akan diikuti dengan keputusan-keputusan lain yang tidak kalah besar dan panjang. Debar jantung yang mendadak kencang ini, saya nikmati dengan sungguh.

Someone just popped up a question: “But why now?”
And I heard myself saying: “Why not? Now is the best time.”

Posted in Uncategorized | 3 Comments

Catatan Dharmawan Handonowarih @KonserAriReda


Nada pertama mendadak hilang dari kepala saya ketika harus menyanyikan lagu pembuka. Itu terjadi pada malam pertama. Saya pikir, itu karena grogi memang sering menyerang di awal pertunjukkan. Besok amanlah. Ternyata, nada awal kembali tak teraba meski tak separah malam pertama.

Apa penyebabnya?
Grogi, pasti.
Tapi setelah diingat-ingat, saya tahu biang keladinya: penghantar yang disampaikan Dharmawan Handonowarih. Menyimak apa yang ia sampaikan membuat saya lupa sedang melakukan apa di panggung. Bahaya.

Bacalah apa yang ia sampaikan di malam (kedua) pertunjukan…

Foto: Bunga Yuridespita

Foto: Bunga Yuridespita

“Menyanyikan puisi bukanlah pilihan yang umum. Tapi AriReda telah memulainya, sekitar 30 tahun lalu. Di dalam proses yang panjang itu, dua pribadi ini seakan menemukan cara bernyanyi begitu rupa, sehingga seakan-akan puisi-puisi itu, dan para penyairnya, hadir, tampak, di dalam bayangan kita.

Banyak orang mengatakan, lagu yang dibawakan AriReda menarik karena kesederhanaannya. Apakah sederhana, karena hanya diiringi oleh gitar? Sederhana karena musik mereka jauh dari panggung yang meriah? Sederhana karena kita semua seakan terpahat oleh lirik Sapardi Djoko Damono yang terkenal, yang mereka nyanyikan berkali-kali itu: “aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu”? Bagi saya, kesederhanaan AriReda adalah pada pilihan mereka, bahwa ketika bernyanyi, mereka mengembalikan pada hal mendasar, seakan-akan tiada lagi yang jauh lebih mendasar, yakni suara dan penghayatan yang begitu dalamnya. Justru di tengah-tengah kekaburan akan hal itu dewasa ini, mereka seakan kokoh berada di sana.

Tapi pertunjukan malam ini tentu saja bukan nostalgia bagi yang telah mengenal duet ini timbul tenggelam sejak dulu. Pertunjukan ini juga ditonton sebagian besar teman-teman yang berusia muda, yang bukan dari angkatan penyanyinya. Yang, terpana, dan kaget, ketika pertama mendengar, sebulan dua bulan lalu sembari bergumam: mengapa saya baru dengar sekarang duet yang oleh sebuah majalah disebut sebagai veteran music folk ini. Para pendengar yang baru ini seakan membuktikan bahwa pilihan AriReda ternyata mendapat sambutan yang luas, tidak hanya dari kalangan dekatnya. Bahwa dalam beberapa pekan saja, penjualan tiket dua malam terjual tanpa sisa, bisa menjadi bukti yang lain. Sebagian penonton muda itu, semalam, dengan sedikit malu, menangis merasakan getaran puisi yang dinyanyikan AriReda. Sebagian tertolong oleh ruangan yang gelap.

Setahu saya, perjalanan duet ini tidak selalu mudah. Ada kesulitan, kegamangan, tidak sedikit pertentangan, cekcok. Terkadang pilihan untuk bernyanyi dikesampingkan. Kapok. Tapi kemudian mereka dipertemukan kembali, mungkin dengan perasaan malu-malu. Mungkin karena mereka memang ada di sana: dalam kesatuan hati dan suara.

Seakan-akan, tidak ada yang lebih indah daripada suara yang lain, bagi Ari, selain memadukan suaranya dengan Reda. Dan seakan-akan tidak ada yang lebih dari yang paling sesuai untuk Reda, selain bernyanyi bersama Ari.

Duet ini mengingatkan perjalanan kita juga, Sering lupa pada pilihan awal. Tetapi kemudian kembali dan menekuni, pilihan itu, sembari mensyukuri, seperti malam ini.

Teman-teman, AriReda.”

Dharmawan, terima kasih.
Sangat.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , | 9 Comments

#KonserAriReda bg. 3: Siap-siap!


Hari-hari berlari begitu laju.
Tanggal 20 Januari, kami diajak menjadi bagian dari Konser Tentang Rasa-nya Frau. Di sana kami menyanyikan 5 lagu. Lalu tiga hari kemudian, manggung di Bandung, ikut dalam proyek keren LCLR+ Yockie Suryoprayogo. Kami menyanyikan Kidung-nya Pahama bersama Raymond Patirane. Satu lagu saja, tapi bahagianya seperti nyanyi berjam-jam. Karena di sana kami bertemu lagi dengan para jawara musik Indonesia. Kekaguman kami sepanjang masa. Konser sendiri menyusul tiga hari kemudian. Saya agak terbirit-birit sebetulnya. Maklum masih jadi pegawai kantor, yang membuat saya berangkat pagi pulang sore dari Senin sampai Jumat. Lumayan…

Daftar Belanjaan
Poster pertunjukkan dibuat tanggal 5 Januari oleh Felix Dass menggunakan Power Point. Mood-nya sudah oke. Tapi gambarnya kurang kena di hati: tangga turun masuk gang sempit, deretan tembok bata yang bikin sakit mata, tumpukan vinyl dan pohon kering di musim gugur…. Akhirnya gambar diganti dengan foto bayangan AriReda di Konstanz. Semua langsung setuju, dan paginya langsung tayang di FB, Twitter, IG. Kilat. Felix juga membuat desain tiket yang memakai foto Olyvia Bendon.

poster catatan-2

Urusan promosi selesai, dilanjutkan dengan materi jualan di TKP. Untuk penonton, kami ingin ada makanan ringan dan agak berat. Siapa yang menyiapkan dan apa makanannya? Tak perlu mencari jauh-jauh: kami ada Dharmawan Handonowarih. Menu pilihan adalah panganan yang bisa menenangkan perut tanpa harus membuat ngantuk: nasi pincuk dengan berbagai variasi rasa –nasi Bogana, nasi Langgi, nasi Pamekasan (enak semua!) dan jajan pasar. Minumannya, teh hangat –kalau tak salah. Semua disiapkan dan berangkat dari Kedai Tjikini. Kasihan Dharmawan: sudah dipaksa pidato, diminta memasak pula. Semoga nggak kapok.

Berikutnya soal memanfaatkan ruang “tamu” Teater Kecil yang luas itu. Selain makanan, digelar juga jualan yang lain. Tapi dari depan, saya tak berminat menggelar bazaar sagala aya, batik, sandal, tas payet-payet, batu akik, magnet berkhasiat dan sejenisnya. Kami ingin fokus pada barang-barang yang berhubungan erat dengan konser dan pengisi acaranya. Jadi pasti CD, t-shirt, kartu pos, poster, dan buku-buku adalah jualan yang kami siapkan diatur dengan baik oleh http://www.midnight-tote.com.

Kelihatannya sudah betul dan menyenangkan. Tapi karena yang mengerjakan cuma dua orang ini, maka setelah memutuskan membuat t-shirt, poster dan kartu pos, baru teringat kalau harus buat desainnya, bukan? Siapa yang buat? Felix sudah dari depan menunjuk dirinya sebagai tukang kejar. Berarti harus ada yang dikejar. Siapa? Hamba sahaya, hahahahaa…. Felix menjalankan tugasnya dengan baik. Sebentar-sebentar menagih via WA, “Jangan lupa email desain poster, kartu pos, t-shirt.” Tentu tak akan lupa email, tapi dibikin dulu yaaaaa! Beginilah kalau banyak maunya. #tanggungrenteng

poster catatan 4

Di luar persiapan tadi, masih ada kegiatan promosi. Salah satunya ngobrol soal konser di RuRuRadio. Lalu buat dokumentasi yang agak lengkap. Dita Nadine, Vany Mitahapsari dan belasan anggota lain dari Qubicle menangani bagian ini. Kegiatan latihan sampai konser selesai, direkam.  Setiap gerak diikuti kamera. Setengah mati saya menahan geli. Tak terbayang kami akan menjalani kegiatan macam begini. #AriRedaConcertDiary 🙂

Cahaya & Swara
Dan hari yang dinanti itu pun tiba. Sesuai rencana, persiapan berjalan sejak jam 8 pagi, ketika ruang pertunjukkan boleh dibuka dan segala macam perlengkapan masuk ke belakang panggung.

Ceritanya, saya mau ngantor setengah hari baru ke Teater Kecil, karena menurut Felix jam ideal hadir di sana setelah lewat jam 14.00. Tapi karena ingin tahu dan melihat persiapan konser sejak awal, saya jadi berangkat lebih awal. Ternyata Ari sudah di sana. Agus Leonardi dan Azis Indriyanto juga sudah sibuk atur ini itu.

Saya melihat betapa sistematis dan canggihnya pasangan yang kami pilih ini. Agus Leonardi bekerja nyaris tanpa suara. Ia mengatur segala sesuatunya lewat iPad. Berkali-kali ia berpindah-pindah tempat, memastikan kualitas suara yang ingin dicapai malam nanti terdengar sama di titik mana pun. Canggih. Beda betul dengan cara yang saya tahu selama ini. Sementara itu Mas Azis mengatur “tirai” lampu dan aturan nyala gelap lampu lainnya berdasarkan play-list/daftar lagu.

Ya, buat konser kali ini, Felix mengharuskan kami punya daftar lagu yang tidak berubah-ubah. “Minimal 20 lagu fix. Selebihnya, terserah,” katanya. Daftar lagu ini diperlukan untuk tata lampu. Lagu mana yang lampunya terang, mana yang redup, mana yang pakai tirai bohlam, mana yang lampu sorot tunggal.

Taat menyanyi sesuai urutan lagu adalah hal yang paling sulit kami lakukan. Makanya meski sudah diminta sejak awal Januari, urutan lagu baru bisa diserahkan tiga hari sebelum konser. Itu pun masih direvisi di siang hari sebelum pertunjukan. Di mana masalahnya? Blame it on our moods. Setiap kali duduk menghadap teman-teman penonton, tiba-tiba kami menemukan lagu yang lebih pas untuk dinyanyikan. Sering sekali daftar yang kami nyanyikan berubah total, sehingga lagu yang sudah pasti dinyanyikan malah tak tersentuh sama sekali. Atau yang direncanakan justru muncul. Dulu, cuma Ari yang suka ganti-ganti lagu. Sekarang, kebiasaan itu saya adopsi juga. Repot.

Lepas jam 2 siang, saya dan Ari sudah bisa cek sound. Aduh, sound-nya…. Bukan main KEREN! Saya tak sabar ingin mendengar komentar dari mereka yang menonton malam nanti. Dua jam kemudian, Jubing siap sound check, disusul oleh Tetangga Pak Gesang yang sebelumnya sempat terlongong melihat permainan gitar Jubing ☺. Sementara Pak Sapardi sudah sejak siang mengabari kalau ia memilih datang menjelang pertunjukan dimulai saja. Tentu boleh, Pak. Santai saja.

Lalu masuk jam siap-siap.
Jam tenang, tapi perut saya malah berisik dan kebelet pipis melulu.
Nggak bener, nih.

Tirai Tersingkap
Dan saat pertunjukkan pun tiba.
Setelah Tetangga Pak Gesang menyanyikan 5 lagu, Dharmawan naik panggung, membacakan pengantar di tepi panggung. Kami duduk dalam gelap. Jantung saya seperti naik ke tenggorokan, dengkul dingin, mulut kering, rambut seperti berdiri. Tiba-tiba lampu menyorot ke arah kami. Ari mulai memainkan gitar. Dan… tiba-tiba saya lupa nada pertama lagu pembuka konser kami.

(…bersambung)

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

#Konser AriReda (2) – Sebuah Kerja Sama

This gallery contains 1 photo.


Dihitung-hitung, dari persiapan sampai hari H1 dan H2, kami cuma punya waktu 3 minggu. Tidak lebih. Sehingga kami harus memanfaatkannya semaksimal mungkin. Meleset: bahaya! Semua deg-degan. Eva Joewono -sahabat kami yang merangkap “ibu asrama” AriReda- sempat bilang dengkulnya dingin, jantung deg-degan. … Continue reading

Gallery | 1 Comment

#KonserAriReda (1): Sajian & Tiketnya


Adalah Ari yang sangat ingin menggelar konser yang berukuran agak besar, di tempat yang biasa menyelenggarakan konser, yang pakai beli karcis, yang pakai layar terbuka dan tertutup.

Niat ini saya sepakati sepenuhnya, sehingga setelah konser pemanasan di CoffeeWar menghantar kami ke Frankfurt, rencana membuat pertunjukkan yang lebih besar pun dirancang. Ternyata menemukan tempat yang kosong untuk Desember, tidak mudah. Kami sempat merencanakan main di Gedung Pertunjukkan Bulungan, bahkan sudah sempat membuat kartu pos yang memuat tanggal pertunjukkan. Apa daya: waktu, tenaga, dan hitungannya nggak masuk. Terlalu mepet. Terlalu bengkak angkanya. Saya dan Felix khawatir nanti malah nombok.

Sehabis libur Natal dan Tahun Baru, Felix Dass memutuskan mampir ke Taman Ismail Marzuki, TIM. Ternyata Teater Kecil kosong tanggal 26 dan 27 Januari. Huaaaaa, keren! TIM adalah tempat pertunjukkan kecintaan saya. Di sini, pertama kali menjadi bagian dari konser Musikalisasi Puisi bersama Pak Sapardi di tahun 1996. Jadi mari kita main di sini saja!

“Ambil tanggal 27 saja ya. Kalau tiket habis, baru kita ambil tangga 26. Gimana?” Felix minta persetujuan via WA. Boleh. Saya langsung menghubungi Jubing dan Pak Sapardi yang memang sejak awal sudah direncanakan untuk tampil. Sementara Felix mengontak Tetangga Pak Gesang. Isi WA Jubing –hanya bisa main tanggal 26 Januari – dan kepastian ada yang mau mensponsori, membuat kami berdua memutuskan mengambil tanggal 26-27 sekaligus. Optimis? Sangat. Selagi memikirkan siapa penampil pengganti Jubing di hari kedua, datang lagi berita baik: Ternyata saya bisa main tanggal 26 & 27 –kata Jubing. Aih, pucuk dicinta nasi campur tiba. Horeee!

Apa yang akan disajikan?
Sejak awal, saya dan Felix sepakat, bahwa yang akan disuguhkan adalah musik. Kehadiran Pak Sapardi, terkait dengan puisinya yang menjadi syair nyanyian kami. Kehadiran Jubing Kristianto, karena musiknya. Kehadiran Tetangga Pak Gesang karena nyanyian mereka. Fokus.

Apa yang dijual dari sebuah konser? Musik. Suara. Tampilan di panggung yang membuat dua hal sebelumnya menjadi lebih menarik. Kami berdua memegang prinsip yang sama: segala sesuatu yang berlebihan itu pasti tidak enak. Jadi pertunjukkan ini harus pas. Tidak kurang, tidak lebih.

Terus terang untuk konser ini, banyak hal –kalau tak ingin dibilang semua—dirancang oleh kami berdua: saya dan Felix. Mengambil waktu sepulang kerja, atau akhir pekan, menguasai meja bundar di samping pintu kaca Kedai Tjikini, atau lewat WA yang terus beterbangan sampai hampir pagi.

Sudah diberi nomor. Siap diserah-terimakan kepada pemesan.

Sudah diberi nomor. Siap diserah-terimakan kepada pemesan.

Pesanlah, Tiket Kau Dapat
Ketentuan berikutnya yang sangat penting dan mempengaruhi keamanan keuangan penyelenggaraan konser adalah system penjualan karcis. Berbeda dengan konser lain yang mengajak gerai penjualan karcis ternama dan tiket box di gedung pertunjukkan, Felix mengusulkan penjualan via email. Alasannya, jumlah tiket yang laku terpantau dengan baik. Di samping itu kami jadi punya catatan lengkap dari teman-teman yang memesan tiket. Saya langsung setuju. Apalagi Felix menyediakan diri jadi penjaga gawang lalu lintas tiket ini. Satu-satunya tiket box yang kami buka hanya di Kedai Tjikini, tempat kami rapat sesempatnya.

Materi promo yang memuat alamat pemesanan tiket: http://www.midnight-tote.com/arireda dilansir pertama kali pada tanggal 6 Januari via FB, IG, Twitter, juga Path masing-masing. Dalam waktu kurang dari seminggu kami sudah menjual lebih dari 100 tiket. Menurut hitungan, kalau dua malam itu terjual 80% tiket, ongkos produksi aman.

Setiap hari, saya menerima WA, laporan penjualan tiket yang dikirim Felix menjelang fajar. Hati berdebar melihat lajunya. Letupan datang di akhir pekan menjelang pertunjukkan, ketika Felix mengabarkan tiket pertunjukkan hari pertama: HABIS. Hari kedua, tinggal 20 tiket. Berita itu disiarkan lagi via media social. Dalam hitungan jam, tiket hari kedua pun SOLD OUT.

Tak lama setelah kabar tiket hari kedua pun habis, bertubi-tubi telepon dan pesan WA berdatangan, mau pesan tiket. Nuwun sewu, sampun telas. Seseorang teman AriReda, lupa pesan tiket dan kehabisan. Dia menelepon Felix dengan nada kesal, “Emang sejak kapan konser begini bisa habis tiketnya?” Hm, mungkin sejak hari itu, hahaha…. ☺. Dia heran tiket konser kami habis. Kami pun heran, Teman.

Buat saya, ini pengalaman pertama jualan tiket buat kegiatan sendiri. Sekalinya jualan, pakai system yang tak lazim pula: pesan via email. Tak pesan, tak dapat. Ternyata hasilnya sangat menyenangkan. Kepastian muncul di depan mata.

Begini caranya:
1. pemesanan tiket dilakukan dengan mengklik ke alamat yang disebutkan poster.
2. pesanan dijawab penjual tiket dengan memberi informasi jumlah uang yang harus ditransfer ke rekening tertentu
3. pemesan mengirimkan bukti transfer
4. penjual tiket mengirimkan resi tanda terima yang akan ditukarkan dengan tiket asli pada malam pertunjukkan
5. sehari sebelum hari pertunjukkan, setiap pembeli tiket menerima instruksi terkait jam penukaran tiket, aturan main, dll. → disampaikan beberapa hari lalu oleh Felix di blog-nya http://felixdass.com/2016/01/31/ariredabermaindicikini/ .

Ringkas. Terpantau baik. Menyenangkan. Mungkin teman-teman yang akan menyelenggarakan konser sendiri mau menerapkannya juga?

Silakan.

(…bersambung)

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | 1 Comment

AriReda: Capturing Harmony


Stanley Widianto’s unedited article of AriReda’s concert.
Thank you, Stanley. Love it.

Two to Three Sounds

reason.jpg

I argued in my review of AriReda’s recent album Menyanyikan Puisi that the album will give you “a reason to look up the words and poetry of Indonesian writers.” Again, AriReda doesn’t sing their own lyrics. They didn’t even compose most of their songs; they had help from musicians like Budiman Hakim, AGS Arya Dipayana and Umar Muslim. But that’s where the beauty of AriReda’s music sets in: With only their voices and a guitar, the duo introduces the public—or at least the audience at Teater Kecil—to some of Indonesia’s finest poetry and gives it a reason to linger.

We have a term for the kind of music that AriReda plays: musikalisasi puisi or basically adding music into already existing poems. As elementary students, Indonesians are used to this kind of drill; harmonizing vocals while we read poems in turn. Musikalisasi puisi, however, pales in comparison to other…

View original post 803 more words

Posted in Uncategorized | Leave a comment