Catatan Dharmawan Handonowarih @KonserAriReda


Nada pertama mendadak hilang dari kepala saya ketika harus menyanyikan lagu pembuka. Itu terjadi pada malam pertama. Saya pikir, itu karena grogi memang sering menyerang di awal pertunjukkan. Besok amanlah. Ternyata, nada awal kembali tak teraba meski tak separah malam pertama.

Apa penyebabnya?
Grogi, pasti.
Tapi setelah diingat-ingat, saya tahu biang keladinya: penghantar yang disampaikan Dharmawan Handonowarih. Menyimak apa yang ia sampaikan membuat saya lupa sedang melakukan apa di panggung. Bahaya.

Bacalah apa yang ia sampaikan di malam (kedua) pertunjukan…

Foto: Bunga Yuridespita

Foto: Bunga Yuridespita

“Menyanyikan puisi bukanlah pilihan yang umum. Tapi AriReda telah memulainya, sekitar 30 tahun lalu. Di dalam proses yang panjang itu, dua pribadi ini seakan menemukan cara bernyanyi begitu rupa, sehingga seakan-akan puisi-puisi itu, dan para penyairnya, hadir, tampak, di dalam bayangan kita.

Banyak orang mengatakan, lagu yang dibawakan AriReda menarik karena kesederhanaannya. Apakah sederhana, karena hanya diiringi oleh gitar? Sederhana karena musik mereka jauh dari panggung yang meriah? Sederhana karena kita semua seakan terpahat oleh lirik Sapardi Djoko Damono yang terkenal, yang mereka nyanyikan berkali-kali itu: “aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu”? Bagi saya, kesederhanaan AriReda adalah pada pilihan mereka, bahwa ketika bernyanyi, mereka mengembalikan pada hal mendasar, seakan-akan tiada lagi yang jauh lebih mendasar, yakni suara dan penghayatan yang begitu dalamnya. Justru di tengah-tengah kekaburan akan hal itu dewasa ini, mereka seakan kokoh berada di sana.

Tapi pertunjukan malam ini tentu saja bukan nostalgia bagi yang telah mengenal duet ini timbul tenggelam sejak dulu. Pertunjukan ini juga ditonton sebagian besar teman-teman yang berusia muda, yang bukan dari angkatan penyanyinya. Yang, terpana, dan kaget, ketika pertama mendengar, sebulan dua bulan lalu sembari bergumam: mengapa saya baru dengar sekarang duet yang oleh sebuah majalah disebut sebagai veteran music folk ini. Para pendengar yang baru ini seakan membuktikan bahwa pilihan AriReda ternyata mendapat sambutan yang luas, tidak hanya dari kalangan dekatnya. Bahwa dalam beberapa pekan saja, penjualan tiket dua malam terjual tanpa sisa, bisa menjadi bukti yang lain. Sebagian penonton muda itu, semalam, dengan sedikit malu, menangis merasakan getaran puisi yang dinyanyikan AriReda. Sebagian tertolong oleh ruangan yang gelap.

Setahu saya, perjalanan duet ini tidak selalu mudah. Ada kesulitan, kegamangan, tidak sedikit pertentangan, cekcok. Terkadang pilihan untuk bernyanyi dikesampingkan. Kapok. Tapi kemudian mereka dipertemukan kembali, mungkin dengan perasaan malu-malu. Mungkin karena mereka memang ada di sana: dalam kesatuan hati dan suara.

Seakan-akan, tidak ada yang lebih indah daripada suara yang lain, bagi Ari, selain memadukan suaranya dengan Reda. Dan seakan-akan tidak ada yang lebih dari yang paling sesuai untuk Reda, selain bernyanyi bersama Ari.

Duet ini mengingatkan perjalanan kita juga, Sering lupa pada pilihan awal. Tetapi kemudian kembali dan menekuni, pilihan itu, sembari mensyukuri, seperti malam ini.

Teman-teman, AriReda.”

Dharmawan, terima kasih.
Sangat.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , | 9 Comments

#KonserAriReda bg. 3: Siap-siap!


Hari-hari berlari begitu laju.
Tanggal 20 Januari, kami diajak menjadi bagian dari Konser Tentang Rasa-nya Frau. Di sana kami menyanyikan 5 lagu. Lalu tiga hari kemudian, manggung di Bandung, ikut dalam proyek keren LCLR+ Yockie Suryoprayogo. Kami menyanyikan Kidung-nya Pahama bersama Raymond Patirane. Satu lagu saja, tapi bahagianya seperti nyanyi berjam-jam. Karena di sana kami bertemu lagi dengan para jawara musik Indonesia. Kekaguman kami sepanjang masa. Konser sendiri menyusul tiga hari kemudian. Saya agak terbirit-birit sebetulnya. Maklum masih jadi pegawai kantor, yang membuat saya berangkat pagi pulang sore dari Senin sampai Jumat. Lumayan…

Daftar Belanjaan
Poster pertunjukkan dibuat tanggal 5 Januari oleh Felix Dass menggunakan Power Point. Mood-nya sudah oke. Tapi gambarnya kurang kena di hati: tangga turun masuk gang sempit, deretan tembok bata yang bikin sakit mata, tumpukan vinyl dan pohon kering di musim gugur…. Akhirnya gambar diganti dengan foto bayangan AriReda di Konstanz. Semua langsung setuju, dan paginya langsung tayang di FB, Twitter, IG. Kilat. Felix juga membuat desain tiket yang memakai foto Olyvia Bendon.

poster catatan-2

Urusan promosi selesai, dilanjutkan dengan materi jualan di TKP. Untuk penonton, kami ingin ada makanan ringan dan agak berat. Siapa yang menyiapkan dan apa makanannya? Tak perlu mencari jauh-jauh: kami ada Dharmawan Handonowarih. Menu pilihan adalah panganan yang bisa menenangkan perut tanpa harus membuat ngantuk: nasi pincuk dengan berbagai variasi rasa –nasi Bogana, nasi Langgi, nasi Pamekasan (enak semua!) dan jajan pasar. Minumannya, teh hangat –kalau tak salah. Semua disiapkan dan berangkat dari Kedai Tjikini. Kasihan Dharmawan: sudah dipaksa pidato, diminta memasak pula. Semoga nggak kapok.

Berikutnya soal memanfaatkan ruang “tamu” Teater Kecil yang luas itu. Selain makanan, digelar juga jualan yang lain. Tapi dari depan, saya tak berminat menggelar bazaar sagala aya, batik, sandal, tas payet-payet, batu akik, magnet berkhasiat dan sejenisnya. Kami ingin fokus pada barang-barang yang berhubungan erat dengan konser dan pengisi acaranya. Jadi pasti CD, t-shirt, kartu pos, poster, dan buku-buku adalah jualan yang kami siapkan diatur dengan baik oleh http://www.midnight-tote.com.

Kelihatannya sudah betul dan menyenangkan. Tapi karena yang mengerjakan cuma dua orang ini, maka setelah memutuskan membuat t-shirt, poster dan kartu pos, baru teringat kalau harus buat desainnya, bukan? Siapa yang buat? Felix sudah dari depan menunjuk dirinya sebagai tukang kejar. Berarti harus ada yang dikejar. Siapa? Hamba sahaya, hahahahaa…. Felix menjalankan tugasnya dengan baik. Sebentar-sebentar menagih via WA, “Jangan lupa email desain poster, kartu pos, t-shirt.” Tentu tak akan lupa email, tapi dibikin dulu yaaaaa! Beginilah kalau banyak maunya. #tanggungrenteng

poster catatan 4

Di luar persiapan tadi, masih ada kegiatan promosi. Salah satunya ngobrol soal konser di RuRuRadio. Lalu buat dokumentasi yang agak lengkap. Dita Nadine, Vany Mitahapsari dan belasan anggota lain dari Qubicle menangani bagian ini. Kegiatan latihan sampai konser selesai, direkam.  Setiap gerak diikuti kamera. Setengah mati saya menahan geli. Tak terbayang kami akan menjalani kegiatan macam begini. #AriRedaConcertDiary 🙂

Cahaya & Swara
Dan hari yang dinanti itu pun tiba. Sesuai rencana, persiapan berjalan sejak jam 8 pagi, ketika ruang pertunjukkan boleh dibuka dan segala macam perlengkapan masuk ke belakang panggung.

Ceritanya, saya mau ngantor setengah hari baru ke Teater Kecil, karena menurut Felix jam ideal hadir di sana setelah lewat jam 14.00. Tapi karena ingin tahu dan melihat persiapan konser sejak awal, saya jadi berangkat lebih awal. Ternyata Ari sudah di sana. Agus Leonardi dan Azis Indriyanto juga sudah sibuk atur ini itu.

Saya melihat betapa sistematis dan canggihnya pasangan yang kami pilih ini. Agus Leonardi bekerja nyaris tanpa suara. Ia mengatur segala sesuatunya lewat iPad. Berkali-kali ia berpindah-pindah tempat, memastikan kualitas suara yang ingin dicapai malam nanti terdengar sama di titik mana pun. Canggih. Beda betul dengan cara yang saya tahu selama ini. Sementara itu Mas Azis mengatur “tirai” lampu dan aturan nyala gelap lampu lainnya berdasarkan play-list/daftar lagu.

Ya, buat konser kali ini, Felix mengharuskan kami punya daftar lagu yang tidak berubah-ubah. “Minimal 20 lagu fix. Selebihnya, terserah,” katanya. Daftar lagu ini diperlukan untuk tata lampu. Lagu mana yang lampunya terang, mana yang redup, mana yang pakai tirai bohlam, mana yang lampu sorot tunggal.

Taat menyanyi sesuai urutan lagu adalah hal yang paling sulit kami lakukan. Makanya meski sudah diminta sejak awal Januari, urutan lagu baru bisa diserahkan tiga hari sebelum konser. Itu pun masih direvisi di siang hari sebelum pertunjukan. Di mana masalahnya? Blame it on our moods. Setiap kali duduk menghadap teman-teman penonton, tiba-tiba kami menemukan lagu yang lebih pas untuk dinyanyikan. Sering sekali daftar yang kami nyanyikan berubah total, sehingga lagu yang sudah pasti dinyanyikan malah tak tersentuh sama sekali. Atau yang direncanakan justru muncul. Dulu, cuma Ari yang suka ganti-ganti lagu. Sekarang, kebiasaan itu saya adopsi juga. Repot.

Lepas jam 2 siang, saya dan Ari sudah bisa cek sound. Aduh, sound-nya…. Bukan main KEREN! Saya tak sabar ingin mendengar komentar dari mereka yang menonton malam nanti. Dua jam kemudian, Jubing siap sound check, disusul oleh Tetangga Pak Gesang yang sebelumnya sempat terlongong melihat permainan gitar Jubing ☺. Sementara Pak Sapardi sudah sejak siang mengabari kalau ia memilih datang menjelang pertunjukan dimulai saja. Tentu boleh, Pak. Santai saja.

Lalu masuk jam siap-siap.
Jam tenang, tapi perut saya malah berisik dan kebelet pipis melulu.
Nggak bener, nih.

Tirai Tersingkap
Dan saat pertunjukkan pun tiba.
Setelah Tetangga Pak Gesang menyanyikan 5 lagu, Dharmawan naik panggung, membacakan pengantar di tepi panggung. Kami duduk dalam gelap. Jantung saya seperti naik ke tenggorokan, dengkul dingin, mulut kering, rambut seperti berdiri. Tiba-tiba lampu menyorot ke arah kami. Ari mulai memainkan gitar. Dan… tiba-tiba saya lupa nada pertama lagu pembuka konser kami.

(…bersambung)

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

#Konser AriReda (2) – Sebuah Kerja Sama

This gallery contains 1 photo.


Dihitung-hitung, dari persiapan sampai hari H1 dan H2, kami cuma punya waktu 3 minggu. Tidak lebih. Sehingga kami harus memanfaatkannya semaksimal mungkin. Meleset: bahaya! Semua deg-degan. Eva Joewono -sahabat kami yang merangkap “ibu asrama” AriReda- sempat bilang dengkulnya dingin, jantung deg-degan. … Continue reading

Gallery | 1 Comment

#KonserAriReda (1): Sajian & Tiketnya


Adalah Ari yang sangat ingin menggelar konser yang berukuran agak besar, di tempat yang biasa menyelenggarakan konser, yang pakai beli karcis, yang pakai layar terbuka dan tertutup.

Niat ini saya sepakati sepenuhnya, sehingga setelah konser pemanasan di CoffeeWar menghantar kami ke Frankfurt, rencana membuat pertunjukkan yang lebih besar pun dirancang. Ternyata menemukan tempat yang kosong untuk Desember, tidak mudah. Kami sempat merencanakan main di Gedung Pertunjukkan Bulungan, bahkan sudah sempat membuat kartu pos yang memuat tanggal pertunjukkan. Apa daya: waktu, tenaga, dan hitungannya nggak masuk. Terlalu mepet. Terlalu bengkak angkanya. Saya dan Felix khawatir nanti malah nombok.

Sehabis libur Natal dan Tahun Baru, Felix Dass memutuskan mampir ke Taman Ismail Marzuki, TIM. Ternyata Teater Kecil kosong tanggal 26 dan 27 Januari. Huaaaaa, keren! TIM adalah tempat pertunjukkan kecintaan saya. Di sini, pertama kali menjadi bagian dari konser Musikalisasi Puisi bersama Pak Sapardi di tahun 1996. Jadi mari kita main di sini saja!

“Ambil tanggal 27 saja ya. Kalau tiket habis, baru kita ambil tangga 26. Gimana?” Felix minta persetujuan via WA. Boleh. Saya langsung menghubungi Jubing dan Pak Sapardi yang memang sejak awal sudah direncanakan untuk tampil. Sementara Felix mengontak Tetangga Pak Gesang. Isi WA Jubing –hanya bisa main tanggal 26 Januari – dan kepastian ada yang mau mensponsori, membuat kami berdua memutuskan mengambil tanggal 26-27 sekaligus. Optimis? Sangat. Selagi memikirkan siapa penampil pengganti Jubing di hari kedua, datang lagi berita baik: Ternyata saya bisa main tanggal 26 & 27 –kata Jubing. Aih, pucuk dicinta nasi campur tiba. Horeee!

Apa yang akan disajikan?
Sejak awal, saya dan Felix sepakat, bahwa yang akan disuguhkan adalah musik. Kehadiran Pak Sapardi, terkait dengan puisinya yang menjadi syair nyanyian kami. Kehadiran Jubing Kristianto, karena musiknya. Kehadiran Tetangga Pak Gesang karena nyanyian mereka. Fokus.

Apa yang dijual dari sebuah konser? Musik. Suara. Tampilan di panggung yang membuat dua hal sebelumnya menjadi lebih menarik. Kami berdua memegang prinsip yang sama: segala sesuatu yang berlebihan itu pasti tidak enak. Jadi pertunjukkan ini harus pas. Tidak kurang, tidak lebih.

Terus terang untuk konser ini, banyak hal –kalau tak ingin dibilang semua—dirancang oleh kami berdua: saya dan Felix. Mengambil waktu sepulang kerja, atau akhir pekan, menguasai meja bundar di samping pintu kaca Kedai Tjikini, atau lewat WA yang terus beterbangan sampai hampir pagi.

Sudah diberi nomor. Siap diserah-terimakan kepada pemesan.

Sudah diberi nomor. Siap diserah-terimakan kepada pemesan.

Pesanlah, Tiket Kau Dapat
Ketentuan berikutnya yang sangat penting dan mempengaruhi keamanan keuangan penyelenggaraan konser adalah system penjualan karcis. Berbeda dengan konser lain yang mengajak gerai penjualan karcis ternama dan tiket box di gedung pertunjukkan, Felix mengusulkan penjualan via email. Alasannya, jumlah tiket yang laku terpantau dengan baik. Di samping itu kami jadi punya catatan lengkap dari teman-teman yang memesan tiket. Saya langsung setuju. Apalagi Felix menyediakan diri jadi penjaga gawang lalu lintas tiket ini. Satu-satunya tiket box yang kami buka hanya di Kedai Tjikini, tempat kami rapat sesempatnya.

Materi promo yang memuat alamat pemesanan tiket: http://www.midnight-tote.com/arireda dilansir pertama kali pada tanggal 6 Januari via FB, IG, Twitter, juga Path masing-masing. Dalam waktu kurang dari seminggu kami sudah menjual lebih dari 100 tiket. Menurut hitungan, kalau dua malam itu terjual 80% tiket, ongkos produksi aman.

Setiap hari, saya menerima WA, laporan penjualan tiket yang dikirim Felix menjelang fajar. Hati berdebar melihat lajunya. Letupan datang di akhir pekan menjelang pertunjukkan, ketika Felix mengabarkan tiket pertunjukkan hari pertama: HABIS. Hari kedua, tinggal 20 tiket. Berita itu disiarkan lagi via media social. Dalam hitungan jam, tiket hari kedua pun SOLD OUT.

Tak lama setelah kabar tiket hari kedua pun habis, bertubi-tubi telepon dan pesan WA berdatangan, mau pesan tiket. Nuwun sewu, sampun telas. Seseorang teman AriReda, lupa pesan tiket dan kehabisan. Dia menelepon Felix dengan nada kesal, “Emang sejak kapan konser begini bisa habis tiketnya?” Hm, mungkin sejak hari itu, hahaha…. ☺. Dia heran tiket konser kami habis. Kami pun heran, Teman.

Buat saya, ini pengalaman pertama jualan tiket buat kegiatan sendiri. Sekalinya jualan, pakai system yang tak lazim pula: pesan via email. Tak pesan, tak dapat. Ternyata hasilnya sangat menyenangkan. Kepastian muncul di depan mata.

Begini caranya:
1. pemesanan tiket dilakukan dengan mengklik ke alamat yang disebutkan poster.
2. pesanan dijawab penjual tiket dengan memberi informasi jumlah uang yang harus ditransfer ke rekening tertentu
3. pemesan mengirimkan bukti transfer
4. penjual tiket mengirimkan resi tanda terima yang akan ditukarkan dengan tiket asli pada malam pertunjukkan
5. sehari sebelum hari pertunjukkan, setiap pembeli tiket menerima instruksi terkait jam penukaran tiket, aturan main, dll. → disampaikan beberapa hari lalu oleh Felix di blog-nya http://felixdass.com/2016/01/31/ariredabermaindicikini/ .

Ringkas. Terpantau baik. Menyenangkan. Mungkin teman-teman yang akan menyelenggarakan konser sendiri mau menerapkannya juga?

Silakan.

(…bersambung)

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | 1 Comment

AriReda: Capturing Harmony


Stanley Widianto’s unedited article of AriReda’s concert.
Thank you, Stanley. Love it.

Two to Three Sounds

reason.jpg

I argued in my review of AriReda’s recent album Menyanyikan Puisi that the album will give you “a reason to look up the words and poetry of Indonesian writers.” Again, AriReda doesn’t sing their own lyrics. They didn’t even compose most of their songs; they had help from musicians like Budiman Hakim, AGS Arya Dipayana and Umar Muslim. But that’s where the beauty of AriReda’s music sets in: With only their voices and a guitar, the duo introduces the public—or at least the audience at Teater Kecil—to some of Indonesia’s finest poetry and gives it a reason to linger.

We have a term for the kind of music that AriReda plays: musikalisasi puisi or basically adding music into already existing poems. As elementary students, Indonesians are used to this kind of drill; harmonizing vocals while we read poems in turn. Musikalisasi puisi, however, pales in comparison to other…

View original post 803 more words

Posted in Uncategorized | Leave a comment

@AriReda #MenyanyikanPuisi – the cover


Ini dia parade 24 desain cover album AriReda dari 32 desain yang berhasil dibuat, dan satu yang terpilih. Dari jumlah itu, empat di antaranya adalah karya sahabat-sahabat kami:

Enrico Halim adalah sahabat tercinta yang juga telah mendesain buku NaWilla. Untuk AriReda, ia memakai salah satu foto suami saya, Eddie Prabu. Rico suka dengan foto ini. Saya pun.

Ju Da Krist menghadirkan desain cover bergambar burung cantik dalam warna lembut. Ju Da Krist adalah seorang desainer dan ilustrator yang sekarang sibuk dengan bisnis handmade leather bag yang diberi gambar indah. Silakan mampir ke FB-nya.

Obin Setya Kurniawan adalah desainer dari demajors, yang saya kirimi foto Drupadi. Ketika dalam proses diskusi cover, ia mengalami kecelakaan. Dan saya pun panik, sehingga nekat mendesain sendiri cover CD kami.

Ra Silke Tarra datang dengan warna baru yang segar: ia memadukan foto AriReda dan ilustrasi yang begitu detil. Silke adalah sahabat putri saya, Soca Sobhita. Mereka berdua telah berteman sejak jaman SD. Sejak SD pula Silke sudah jagoan menggambar. Sekarang ia mengerjakan ilustrasi untuk banyak klien.

Kepada Enrico, Ju Da Krist, Obin, dan Silke, AriReda menghaturkan terima kasih yang setinggi-tingginya, atas kesediaan membuatkan desain bagi album kami #pelukSayang #kekagumankami

These 4 covers (far right column/yellow bar, top to bottom) got 2 votes from the panelists. All covers -except *) are designed by @RedaGaudiamo

These 4 covers (far right column/yellow bar, top to bottom) got 2 votes from the panelists.
All covers -except *)
are designed by @RedaGaudiamo

***

Album AriReda Menyanyikan Puisi dapat diperoleh di sini:
1. iTunes, silakan ketik AriReda ☺
2. demajors.com
3. http://www.midnight-tote.com, pesan via email: yo@midnight-tote.com

Jakarta
Musik+ CD Store @musikplus
Sarinah Thamrin Lt Dasar ph: 3902759
Mal Klp Gading1 unit LG184 ph:4529630

Summarecon Mal Bekasi unit DW117 ph: 02129572676
Mal Tmn Anggrek Lt3 ph: 5639297

RAD Record Store @radrecordstore‬‪
Jl. Kyai Maja No.37, Mayestik, opposite Psr.Taman Puring (next to @heretostayJakarta), WA: 08568996191/021-95651288. Open:Mon-Sun | 11.00-18.00

Kedai Tjikini
Jl. Cikini Raya No. 17, Jakarta Pusat

Bandung
KINERUKU @kineruku‬‪ ‬
Hegarmanah 52 Bandung | 022-2039615 | 087824281152
kineruku@gmail.com
Buka: Senin-Sabtu 10-20, Minggu 11-18

Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap
demajors_purwokerto @demajors_pwt
Store: @Pdgnskt (Pasar Pembimbing, Belakang Inul Vizta)
For Order – Pin Bb 3143a995 / Whatsapp 08813747964

Solo
BELUKAR ‪@belukarcult‬
Jln Pandudewanata No. 155 Kartopuran Solo 57152
Ph 085725191666
LINE: belukarcult (11.00 – 21.00)
Store of original CD and Band Merchandise
‪Solo, Central Java, Indonesia‬‬
‪facebook.com/belukarcult‬

Yogyakarta
‪@demajors_diy‬‪ ‬
Jl. Amri Yahya No.1 Gampingan Wirobrajan Jogja
Telp/WA : 085643257226
Open Senin-Sabtu I 10.00-18.00 WIB

Pontianak & Sekitarnya
NUMERIQUESTORE @nmrqstore‬
‪nmrqstore.com‬
email : numeriquestore@gmail.com
IG : numeriquestore
Ph/SMS: 085654467777
‪Jl Johar no 71 Pontianak‬‬

Padang & Bukittingi‬
RIMBUN COFFEE‪ @Rimbuncoffee‬
Espresso & Brew Bar
Jl. Ki S. Mangunsarkoro A-10 Padang 

Jl. A. Yani No. 122 Bukittinggi
‪instagram.com/rimbuncoffee/‬

Batam
demajors_Batam @demajors_Batam‬
Komp.Ruko Abaditama Blok B No 3 Seraya,Batam. Open 12pm-7pm. For Order WhatsApp:081268091330
Line:bringhopetodaystore

Makassar
LO-VING STORE
‪@lo_ving‬
Jl. Monginsidi No.38. Ph: 0411875819. Info/Mail Order: info.cvls@gmail.com.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

#AriReda Menyanyikan Puisi: An Album That Almost Didn’t Make It


Album: Menyanyikan Puisi Musikus: AriReda Label: demajors Tak ada yang menyuguhkan musikalisasi puisi seindah Ari Malibu dan Reda Gaudiamo. Ari dan Reda membuat puisi yang mereka nyanyikan begitu personal, seolah-olah kata-kata yang dinyanyikan bukanlah puisi orang lain, melainkan lirik yang sengaja mereka buat. Sederhana adalah kata kunci dalam album Menyanyikan Puisi, album kedua sepanjang 33 tahun mereka bersama. TEMPO, 17 Januari 2016

Album: Menyanyikan Puisi
Musikus: AriReda
Label: demajors
Tak ada yang menyuguhkan musikalisasi puisi seindah Ari Malibu dan Reda Gaudiamo. Ari dan Reda membuat puisi yang mereka nyanyikan begitu personal, seolah-olah kata-kata yang dinyanyikan bukanlah puisi orang lain, melainkan lirik yang sengaja mereka buat. Sederhana adalah kata kunci dalam album Menyanyikan Puisi, album kedua sepanjang 33 tahun mereka bersama. TEMPO, 17 Januari 2016

Bila mengikuti jalur aslinya, album AriReda Menyanyikan Puisi mungkin tak akan lahir. Jalan-jalanke Frankfurt, menjadi satu dari 9 album pilihan TEMPO (bersama Silampukau, Barasuara, Kelompok Penerbang Roket…), dan dirayakan kelahirannya dalam konser di akhir bulan lalu.

Album ini, muncul sebagai usul yang disampaikan oleh Pak John McGlynn ketika proyek Frankfurt Bookfair mulai disebut-sebut pada akhir 2013. Beliau berniat menampilkan musikalisasi puisi beberapa karya penyair Indonesia di Frankfurt Bookfair. Isinya pun sudah ia sampaikan: beberapa lagu dari puisi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jermannya. CD dicetak secukupnya, sesuai keperluan pameran di sana. Saya semangat sekaligus ragu, karena Pak John minta AriReda menyanyikan versi bahasa Jermannya, dan lagu jangan berubah jauh dari aslinya.

Wah, bagaimana ya?
Selisih suku kata bahasa sini dan sana kan bisa lebih dari dua baris. Bila dipaksakan memakai lagu asli, maka lagu yang baru dari puisi yang sama bisa kekurangan lirik. Jadi mari kita buat baru! Ide yang bagus. Tapi sulit dinyatakan. Karena itu sama saja dengan membuat materi baru total. Dan pasti makan waktu yang tak sedikit. Akhirnya saya berkonsultasi pada Pak Sapardi. Beliau dengan cepat memberi solusi: Nyanyikan saja aslinya. Lalu di layar tayangkan terjemahannya. Atau dibacakan. Selesai. Wah, ide brilyan! Maturnuwun, Pak. Dan Pak John setuju juga.

Langkah berikut: menyusun lagu-lagu yang harus dinyanyikan. Ternyata banyak. Tetapi seperti biasa: menentukan lagu tak pernah mudah buat kami. Saya pilih ini, Ari tak sepakat. Ari mau lagu itu, saya nggak sreg. Pilah-pilih lagu ini akhirnya membuat proses album terhenti begitu saja. Lama. Setahun lebih, bahkan. Dan kami tidak merasa ada yang salah dengan itu.

Di samping urusan susunan lagu, yang membuat lama adalah urusan perduitan: siapa yang mau bayari? Semula ini akan dibiayai oleh panitia yang mengurus pameran buku. Belakangan datang kabar kalau urusan memproduksi album musikalisasi puisi sudah tak kedengaran lagi. Bahkan tak dikenal. #eh

Dengan demikian, kami pun sepakat proyek yang sebaiknya dilupakan saja. Dibuat nanti-nanti saja, kalau ada rejeki lebih. Sampai pada suatu malam, di CoffeeWar-nya Yogi D. Sumule, sehabis menyanyi untuk acara ulang tahun Bonita & The Husband –BNTHB, Mas David Karto menghampiri kami, dan bilang tertarik memasarkan album kami. What? Are you sure, Mas? He’s damn sure, apparently.

Tawaran berlanjut pada pertemuan di markas deMajors. Ngobrol lengkap dengan duo David: Tarigan dan Karto, menghasilkan keputusan buat album baru. Rencana mengudara, tangan-tangan sahabat menyambut. Candra Widanarko dan CANGA anton dari Groovebox Studio menawarkan bekerja sama, merekam seluruh album di sana. Agenda dibuka, tanggal ditentukan, rekaman. Herannya, ketika mulai rekaman itu, pilihan lagu langsung beres. Argumen atos yang membuatnya tertunda lebih dari setahun, lenyap begitu saja. Tak berbekas.

Dari Mei sampai Juni akhir semua proses berlangsung. Sempat menyentuh bulan puasa, sebelum akhirnya masuk sesi mixing di Lebaran hari kedua.

Selesai?
Belum.

Kami perlu bantuan beberapa teman untuk menentukan lagu mana yang pas buat album kedua ini. Yogi D. Sumule, David Tarigan, David Karto, Felix Dass, Ibu Eileen Rachman, Candra Widanarko, Dharmawan Handonowarih dan Eddie Prabu termasuk pemberi komentar. Dari 12 lagu, akhirnya terpilih 9 saja. Tiga lagi, kami simpan dulu.

Selesai?
Ternyata belum.

Penyebabnya: CANGA tidak berhenti mengutak-atik, sehingga ada versi mixing sampai nomor 6! Menjelang tengah malam, masuk pesannya di TG saya: Reda cek email ya… Ah, saya sudah tahu ini pasti ada versi mixing-an baru. Lalu menyusul mastering, sampai ada 4 versi. Membuat pusing kepala, karena nggak tahu harus pilih yang mana. Setelah ditimbang-timbang, didengar bolak-balik, akhirnya ada satu versi yang disepakati bersama. Master berangkat ke deMajors.

Beres?
Belum juga!

Karena ada hal lain yang membuat proses tak maju-maju: desain cover. Desainernya: Enrico Halim, Obin DeMajors, Judakrist, Ra Silke Tara, dan saya (ikut-ikutan banget, sih?). Desain sampul ini dikirimkan kepada grup panel yang terdiri dari: David Tarigan, David Karto, Candra Widanarko, Canga Anton, Hendro Joewono, Ari Malibu, Felix Dass, dan saya sendiri. Yang saya suka, Ari nggak sreg, tapi Hendro bilang oke, sementara Felix bilang kuno ajah. Begitu terus silih berganti. Tidak kunjung selesai. Dari 32 desain cover yang dibuat, tidak ada yang dipilih lebih dari 2 orang panelis. Saya mulai sakit kepala: jengkel karena tak ada desain yang berhasil ditemukan, panik karena waktu yang tersisa tidak banyak.

Selagi perasaan tak karuan, saya buka semua file foto yang saya punya dan menemukan gambar kesayangan: foto patung Drupadi (yang saya ambil dari belakang), karya Ibu Sri Astari Rasjid. Iseng saya padukan dengan ilustrasi daun dan rumput. Tak sampai 10 menit selesai, langsung dilansir. Tiba-tiba semua sepakat itu harus jadi cover album AriReda. Wuiiiiiiiiiih! Ketika itu, master lagu sudah selesai sekitar 7 hari sebelumnya, duduk manis di kantor deMajors.

Akhirnya, berangkatlah album itu sebagai satu kesatuan untuk diproduksi dengan harapan bisa selesai sebelum kami bertolak ke Frankfurt. Waktu sudah mepet. Banget. Sementara itu, jadwal nyanyi kami mendadak padat. Ada kegiatan nyanyi di Indonesia International Book Fair. Ada LCLR. Ari membuat konser buat ulang tahun Pak Taufik Ismail. Tiba-tiba hari habis, waktu berangkat sudah begitu dekat. Konser peluncuran yang agak besar dan ramai, tak bisa kami lakukan. Tidak cukup waktu untuk menyiapkannya, dan CD-nya pun  masih ngantri di pabrik. Hiks!

Tanggal 3 Oktober, di tengah-tengah konser Imada Hutagalung di CoffeeWar, Yogi Sumule menawarkan untuk membuat konser pemanasan tenggorokan menuju Frankfurt, seminggu dari hari itu: 10 Oktober. Tanpa pikir panjang, langsung sepakat, sementara jari langsung menuliskan pesan ke Mas David Karto: CD harus selesai tanggal 9 Oktober, minimal tg. 10 sore.

Dan akhirnya berita melegakan itu datang juga: CD berhasil diselesaikan tanggal 9 Oktober, diantar pakai Gojek ke rumah. Besoknya, kami menggelar konser pemanasan tenggorokan, eh Warming Up Concert itu di CoffeeWar. Di hadapan teman-teman, kami menyanyikan puisi dari cd baru dan lama. Ikut tampil malam itu: Jubing Kristianto, Bonita Adi dan Petrus Briyanto Adi. Seru sekali. Senang 🙂

Malam itu kami pulang dengan badan sangat lelah, tapi senyum lebar mengembang hingga lama: CD kedua kami telah lahir, dirayakan dengan selamatan sederhana di antara teman. Doa mengiringi agar perjalanannya lancar jaya menuju sahabat lama dan baru, menyusup di telinga, menyentuh hati.

Tak pernah menduga bahwa dua bulan kemudian, album yang nyaris tak jadi dibuat ini masuk dalam deretan 9 Album Terpilih Majalah Berita TEMPO.

Ah, bahagia kembali mendekap hati kami.
Berhari-hari.

Kepada semua yang membantu AriReda membuat, menyelesaikan, meluncurkan album AriReda Menyanyikan Puisi dan memberitakannya kepada khalayak: terima kasih. Sangat.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment