[Resensi Buku] Aku, Meps, dan Beps : Menjadi Keluarga Bahagia, Bukan Sempurna


Terima kasih sudah berkenan membaca, menyukainya, dan mengulasnya sekaligus.

Bibliotheca Nyctopidhila

Kelihatannya aku sudah ketularan penyakit Meps: pelupa. Senin yang lalu, waktu sudah sampai di depan sekolah aku baru ingat kalau lupa bawa tas.” (Halaman 80)

1489426297166

Bagaimana rasanya punya orang tua yang unik? Ibu berambut pendek dan ayah berambut panjang. Ibu yang sipit berkulit putih dan ayah hitam bermata besar. Ibu yang bekerja di kantor dan ayah yang bekerja di rumah. Atau bagaimana rasanya mempunyai piaraan ayam, nyamuk, dan semut? Mari bertanya pada Soca.

Aku panggil emakku Meps dan bapakku Beps. Kenapa? Hihihi, aku enggak tahu. Tahu-tahu aku sudah panggil mereka begitu.” (Halaman 1)

Aku, Meps, dan Beps adalah ‘buku harian’ yang ditulis Soca Sobhita dalam rentang waktu sejak masuk sekolah sampai hampir lulus Sekolah Dasar dibantu Meps-nya, Reda Gaudiamo. Catatan yang sudah sejak lama ‘ditinggalkan’ coba dihidupkan kembali oleh Reda dan Soca bertahun-tahun kemudian. Jika Na Willa semacam catatan perjalanan milik Meps–Reda Gaudiamo–saat TK, maka Aku…

View original post 428 more words

Posted in Uncategorized | Leave a comment

AriReda: Sebuah Catatan #1


Sejak siang saya duduk di pojok kedai Tjikini. Laptop terbuka, kopi tubruk Toraja sudah tinggal sesesap lagi. Tapi saya tidak melakukan apa-apa, padahal saya ingin sekali menulis tentang kamu, tentang kita, Ri.

Rasanya terlalu banyak hal yang berjejal di pintu, ingin muncul lebih dahulu. Dan saya bingung mana yang harus dibiarkan keluar lebih dahulu. Semua jadi terasa penting. Bahkan yang kemarin saya pikir masuk kategori remah-remah, sekarang jadi istimewa.

Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Dan yang paling mengganggu dari semua, mata saya basah lagi. Menulis terasa begitu sulit. Tapi, tak bisa ditawar: saya harus menulis sesuatu tentang kita. Dan untuk itu, mungkin ada yang bisa saya jadikan alat bantu.

Notifikasi FB menyebutkan nama Haswinar Arifin (Konar). Ia memasang sebuah foto yang memuat kita, Ri. Ketika saya tengok, ternyata itu foto yang dia ambil di bulan November 1982, di acara ketiga (atau kedua?) GM Selo di Pasar Seni Ancol. Acara ini digagas oleh Pepeng bersama Yando, Toha Mashyur, Donny Metri (alm) dan sejumlah teman-teman dari Antropologi UI saat itu.

Persiapan buat acara itu cuma beberapa hari sebelum manggung. Saya panik sekali karena lagunya baru semua (baru saya dengar/kenal, tepatnya) lalu kamu mengharuskan kita berdua hafal teks. Semua ada 3 lagu, dan di salah satunya saya memainkan suling. Selain itu masih ada tambahan masalah: kamu tak mau memperbanyak jadwal latihan. Jadi untuk lagu yang baru semua dan susah semua itu, kita hanya bertemu 2 kali. Tidur saya langsung tak nyenyak selama beberapa hari.

Pagi sebelum main, muncul diskusi soal kostum. Waduh, pakai apa ya? Celana jins saya cuma satu, lagi dicuci. Selly Riawanti bilang baiknya saya pakai celana montir dengan kemeja katun biru. Amalia Shadilly menyediakannya. Saya lantas pulang untuk kembali lagi jam 4 sore, sudah pakai kostum. Rombongan siap berangkat, naik VW Combi Amalia, mobilnya Belis, dan Toha.

Di mobil, saya bertanya padamu, “Ri, nggak pakai latihan lagi, nih?” berharap kamu jawab: Harus!
Ternyata kamu bilang, “Nggak usah.” Oh Dear…. Dengkul saya dingin. Tenggorokan kering. Nanti bisa nyanyi nggak ya? Inget semua lirik nggak ya?

Sampai di sana, maunya pura-pura tenang. Apa daya nggak berhasil, ketahuan Pepeng pula! “Kenapa lo? Deg-degan ya?” katanya sambil melotot lalu tertawa keras-keras. Idih, orang lagi grogi diketawain. Yando menenangkan, “Tenang…. Bisa lah. Ini kecil, kok,” katanya. Kecil? Orang besar-besar duduk di depan panggung, dengan mata melotot begitu dibilang kecil? Sementara kamu entah ke mana sih, Ri? Selama beberapa saat kamu nggak kelihatan di wilayah panggung.

Sudah tak ingat lagi kita muncul di urutan ke berapa, yang pasti giliran kita setelah group country, Lost Men. Kaki gemetar. Untung bangku kita ada tatakannya, di situ kaki bisa disangkutkan, biar berhenti bergetar.

Foto: Haswinar Arifin

Lagu pertama: Give Your Best To Your Friends (Bee Gees), lancar.
Lagu kedua: Luck of the Irish, saya nyaris tak bisa mendengar suara sendiri, terpaksa tutup kuping sebelah (perilaku yang ternyata terus saya lakukan setiap kali kita nyanyi bersama).
Lagu ketiga: saya hampiiiiiir tersedak ketika memainkan suling. Ini pertama kali nyanyi The Boxer.

Tiba-tiba semua selesai. Leganya bukan main. Saya lihat muka Pepeng, Yando, Donny, Ace, Toha, Amalia dan Ncesz tampak lega. Muka kamu biasa saja, cuma sekilas memunculkan jempol. Semoga itu berarti aman jaya. Lalu saya segera lari meninggalkan area panggung, mencari kamar kecil. Kebelet pipis.

Satu hal baru terjalani malam itu: nyanyi di depan orang banyak. Dapat honor pula. Senang!

Akankah ini terulang: Nyanyi sama kamu lagi?
Kalau ya, semoga lain kali kamu mau latihan lebih sering supaya saya nggak deg-degan banget.

Ternyata memang terulang lagi dan lagi dan lagi. Tapi latihan tak lebih dari dua kali. Bahkan kadang cuma sekali. Karena kamu merasa itu sudah cukup.
Sehingga saya terus saja deg-degan. Ampun, deh.

 

 

Posted in AriReda, Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , | 5 Comments

‘Mong-Omong


Saya punya sepoci teh.
Mari kita nikmati bersama di beranda.
Mengobrol kita sambil menyambut malam.

***

Saya ingat jaman kecil dulu, sebelum sekolah, ada seorang teman yang selalu meneriaki saya Cino Asu! (Cina Anjing!) setiap kali saya lewat di depan rumahnya.

Tak senang dengan kelakuannya, saya putuskan untuk menghadapinya. Pulang dari “hadap-hadapan” itu, saya kena marah dari Mak. Saya tak terima. Tapi jawaban
Mak membuat saya diam.
Katanya, “Lho bapakmu memang Cina. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang tidak bisa dibenarkan adalah teriakan yang menempel sesudahnya: “asu”.
Mak membuat saya memahami itu. Bapak saya memang orang Cina.
Ok, got it, Mak!

*
Saya sempat lupa perihal Cino atau bukan Cino sampai pada satu ketika saya berkenalan dengan seseorang kakak kelas. Dia bertanya saya orang apa. Dengan tenang saya bilang, bapak saya Cina. Tangan saya yang sudah terulur, dibiarkannya mengambang di udara. Dia berbalik badan dengan mengumpat, “Hah, Cina!”

Saya masih ingat seperti apa rasa yang muncul saat itu.
Sekarang sudah tak lagi menyakitkan seperti dulu, ketika pertama kali mendengarnya. Tapi cukuplah buat catatan bahwa peristiwa itu pernah ada.

Pengalaman itu membuat saya akhirnya perlu waktu agak panjang untuk menjawab pertanyaan sederhana, “Kamu orang mana?”

Kalau yang bertanya berkulit coklat dan bermata besar, saya akan menjawab orang Timor. Kenapa tidak Sabu – suku Mak saya? Saya malas menerangkan karena setiap kali menyebut Sabu, tak ada yang tahu di mana letak pulau itu. Geser sedikit ke Sumba, yang dikenal malah Sumbawa. Pasti waktu membahas NTT, banyak yang absen.

Jadi timbang ribet saya mengaku Timor saja. Kalau kemudian mereka membahas mata saya yang kecil, saya bilang ayah saya orang Sunda. Atau Menado. Dikira anak orang Batak? Saya iyakan saja. Kalau diajak bicara bahasa suku yang saya akui itu, saya bilang saya lahir di Jakarta. Tidak bisa bahasa sana. Saya menyiapkan banyak alasan untuk tidak mengaku orang Cina. Suku bapak saya itu. Kalau yang bertanya berkulit putih bermata sipit, saya akan menjawab, “Sama kayak kamu.” Biasanya dilanjutkan dengan pertanyaan lagi, “Kok gak putih?”
“Kebanyakan main di matahari,” itu alasan saya.

Ribet.
Memang.
Tapi –saya pikir- ini adalah cara yang saya temukan untuk menjaga perasaan sendiri. Pengalaman mengajarkan bahwa menjadi anak orang Cina itu tidak enak.

Di SMA, saya lupa kalau saya ini Cina. Saya juga tak merasa perlu menjelaskan letak pulau Sabu di mana. Teman-teman saya yang lain juga tidak peduli saya orang apa. Tidak penting karena tidak sempat. Di masa itu, saya dan teman-teman terlalu sibuk berkonsentrasi pada pelajaran dan bersatu-padu menghadapi kepala sekolah yang –waktu itu—rasanya galak banget.

Tapi masuk universitas, saya kembali diingatkan pada darah campur di badan saya ini beserta segala konsekwensi yang terkait di dalamnya. Urusan administrasi. Untuk masuk UI, saya perlu akte lahir, surat ganti nama juga.
Ini gara-gara nama saya di akte kelahiran mengandung nama lama Pak: Thio. Sialnya surat ganti nama tak ada. KTP sudah Gaudiamo. Bagaimana ini?

Saya hampir melepas kesempatan kuliah gara-gara surat itu. Malas membayangkan proses pembuatan surat yang sudah kadaluwarsa itu. Mak tak sepakat. Dia memaksa saya jalan terus.
“Sudah susah-susah ikut tes, lulus, main tinggal saja. Nggak bisa!”

Tapi surat-suratnye pegimane nih, Mak? Dikasih yang ade, jadi ribet. Kagak dikasih pasti ditagih.

“Pakai KTP-mu saja. Kalau perlu bawa ijazah SD, buat jaga-jaga,” katanya.
“Akte kelahirannya?”
“Bilang tidak punya.” Lho? Bisa begitu?
“Coba lihat formulirnya!” Saya baca sekali lagi kolom-kolom yang perlu diisi. Ada kotak INDONESIA dan WNI. Di samping WNI ada keterangan menyertakan akte kelahiran, KTP, surat ganti nama dll. Sementara di kotak Indonesia hanya ada catatan menyertakan fotokopi KTP. Akte kelahiran tidak diminta!
“Kamu, orang Indonesia. Warga Negara Republik Indonesia,” kata Mak sambil mencontreng kotak Indonesia. Selesai.
Mak memang tiada dua.

Sejak hari itu, setiap kali mendapat pertanyaan –Kamu orang apa—saya pakai jawaban Mak ini : Orang Indonesia! Hanya pada teman-teman dekat saya menjelaskan perihal suku ini, kalau mereka bertanya.
Satu teman dekat saya, pernah bertanya dengan muka sangat heran, “Kok kamu ngaku Cina, sih?”
“Memangnya kenapa?”
“Nanti hidupmu repot, lho!” katanya dengan suara iba. Punggung saya ditepuk-tepuknya juga.
“Semoga tidak.” Saya yakin: rejeki, nasib baik, tidak tergantung pada suku dan warna kulit dan besar kecil ukuran mata.

Tetapi urusan Cina ini ternyata masih belum tamat juga.

Pada suatu malam –saat itu saya dan pacar sudah akan menikah—kami bertandang ke rumah seorang teman. Ngobrol punya ngobrol, ternyata waktu sudah lewat tengah malam. Teman yang kami datangi itu menggelar tikar. Saya berbaring di situ, sementara pacar saya –yang sekarang sudah jadi suami—meneruskan obrolan.
Namanya bukan rumah sendiri, saya tak bisa segera lelap. Di saat itulah terdengarlah percakapan yang membuat saya kehilangan rasa kantuk….
“Mbul, kamu serius sama Reda?”
“Oh, iya.”
“Kamu nggak mau pikir-pikir lagi?” badan saya mendadak terasa kaku. Ada apa ini?
“Kenapa memangnya?” Itu pertanyaan saya juga.
“Kamu tahu dia Cina kan?” Astaga!
“Oh, tahu sekali!”
“Kamu nggak apa-apa kalau dia Cina?” Memangnya kenapa?
“Nggak apa-apa. Kenapa rupanya?”
Pertanyaan tak dijawab. Teman yang bertanya itu beranjak ke dapur. Katanya mau ambil minum.

*
Menurut saya—Mak lah penyebab munculnya urusan per-Cina-an ini.

Sungguh deh, kalau saya bekerja di bagian administrasi bidang perjodohan di langit sana, Mak sudah saya jauhkan dari Pak sejak sebermula mereka berkenalan. Kalau perlu tak usah kenalan.
Pilihan hati Mak membuat Cina dan bukan jadi sesuatu yang tak berkesudahan dibahas. Dari begitu banyak laki-laki yang menjadi sahabatnya, Mak memilih Pak yang Cina kelahiran Banda Aceh ini. Bukan sahabat sekampung. Bukan teman belajarnya asal Jogja. Bukan juga kenalan dari Australia atau Amerika. Dia memilih laki-laki bermata sipit, berambut lurus seperti sikat, berkulit putih menjadi suaminya. Jadi bapak saya dan tiga adik saya. Mak tak peduli bapaknya kurang setuju, dan ibunya menangis karena pilihan hatinya.
Begitulah Mak: Ia tak pernah kenal kata “ragu”.

*
Ketika kami mulai besar, dan televisi menjadi hiburan utama di rumah. Satu ketika saat melihat tayangan tentang dunia bisnis, Mak berkomentar, “Orang-orang Cina ini merasa dirinya superior ya? Segala mau dikuasai!” Pak ada di sana, duduk di sebelah Mak. Mengangguk-angguk sepakat.

Ketika yang lain, melihat saya yang tak juga menyelesaikan skripsi, Mak bersuara, “Anak Cina yang di rumah ini kok nggak ada ulet-uletnya sama sekali, ya? Bagaimana mau maju? Bisa cari uang nggak nanti?” Pada saat itu, Pak juga ada di sebelah Mak. Senyum-senyum dia.

Kau dan pilihanmu itu, Mak ☺

*
Saya menikah dengan pacar yang sempat diinterogasi temannya itu. Dia orang Jawa. Kami punya seorang putri yang selalu menyebut dirinya orang Indonesia raya. Kalau ada yang ingin tahu lebih jauh, ia jelaskan darah apa saja yang ada di tubuhnya. Ia bangga ada darah Cina di tubuhnya.
Penting buat cari duit, katanya. I see!

***

Mari, saya tuangkan teh ke cangkirmu.
Kita nikmati hangat dan wanginya di beranda.
Malam sudah datang sejak tadi.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Cemara


1509907_10151841684647984_802612712_n

Di halaman rumah, ada pohon cemara.
Daunnya halus, melambai-lambai setiap ditiup angin. Aku suka mengambil daunnya, diiris-iris jadi sayuran kalau buat pecel. Bumbunya, dari tanah liat, diulek pakai cobek dan ulekan dari tanah liat. Dibeli Mak di Pasar.

Farida paling suka buat bumbunya. Dia suka mengulek.
Aku yang membuat sayurnya.

Kadang-kadang, Mak menggunting satu dua ranting cemara, lalu dimasukkan ke dalam botol kaca berisi air. Di botol itu juga dimasukkan satu atau dua tangkai bunga seperti kertas. Warnanya merah muda. Kata Mak, namanya Oleander. Botol berisi daun dan bunga diletakkan di meja. Besoknya, bunga dibuang karena warnanya jadi coklat, lembek-lembek dan baunya tidak enak. Tapi daun cemara tetap di dalam botol. Bunga baru dimasukkan ke botol, menemani daun cemara sampai beberapa hari lagi.

Suatu hari, Mak ambil gergaji, dan potong satu batang cemara, ditanam di ember kaleng berisi tanah, diberi kotoran kambing yang diberi oleh ibunya Farida, lalu disiram. Setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah, aku siram ember kaleng berisi batang pohon cemara itu. Sore, sehabis mandi, aku siram juga. Mak bilang, supaya batang cemara bisa kuat, dan jadi pohon baru. Mula-mula daun-daunnya agak layu. Tapi setelah beberapa hari, daunnya bangun lagi. Tidak tidur dan lesu.

Pada suatu hari Minggu, Mak bilang batang cemara di ember sudah kuat, sudah ada akarnya. “Nah, karena sudah kuat, kita bisa bawa masuk ke dalam rumah,” kata Mak.
“Kenapa, Mak?”
“Karena mau kita jadikan pohon natal.” Oh! Di rumahku ada pohon natal?
“Seperti di gereja? Dihias-hias, Mak?”
“Ya, kita buat sendiri hiasannya.” Wah, bagaimana caranya?
“Aku boleh ajak Farida?”
“Kalau dia mau, boleh.”
“Sekarang, Mak?”
“Ya. Tapi lihat-lihat dulu, ya. Kalau Farida sedang bantu ibunya, jangan ajak ke rumah.”
“Ya, Mak.” Aku langsung berlari ke rumah Farida. Oh, ternyata dia sedang injak-injak punggung Ibunya yang berbaring di tikar, yang digelar di lantai di depan rumahnya.

“Eh, ada Willa, tho?” ibunya mengangkat kepala dari bantal.
“Ya, Bude.” Aku selalu panggil ibunya Farida dengan Bude. Seingatku, semua orang memanggilnya Bude.
“Mau ajak Ida main?”
“Aku mau buat pohon Natal, Bude.”
“Buat pohon Natal? Kapan?” Ida langsung bertanya, dan kakinya seketika berhenti menginjak-injak badan ibunya.
“Sekarang.”
“Boleh, Mak?” Ida bertanya pada ibunya yang sekarang sudah mengangkat kepalanya.
“Mau hias-hias pohon Natal, Willa? Oya, sebentar lagi Natal. Sana, kalau mau ikut,” katanya sambil menggoyangkan punggungnya. Ida melorot dari betis ibunya, dan langsung berdiri di sampingku, “Ayo!” katanya sambil menarik tanganku. Bergandengan tangan kami lari ke rumahku.

Di rumah, di ruang tengah, Mak sudah menunggu di samping meja makan yang penuh dengan potongan kertas mengkilap, karton bekas kardus, kertas-kertas kalender. Ada juga gunting, benang, lem, ada pensil warna, ada botol-botol kecil, di dalamnya ada bedak warna-warni. Ada kapas bulat-bulat. Ada kobokan, serbet.

“Sudah siap?”
“Siap, Mak!”

Sampai sore aku, Farida dan Mak bekerja di meja makan. Menggambar, menggunting, menempel, mewarnai. Bedak-bedak warna-warni itu, kata Mak namanya kesumba, buat mewarnai kue. Aku buat awan, bintang, bola-bola, kotak. Farida buat daun, bunga. Mak buat ayam, kucing. Semua digantung di dahan-dahan kecil pohon. Habis itu, kami cuci tangan. Meja dibersihkan.

Maghrib.
Farida harus pulang. Mandi dan siap-siap sembahyang.
Aku dan Mak menunggu Pak yang akan pulang sebentar lagi.

*satu episode dari NaWilla 2

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Metronom


Felix Dass | felix@felixdass.com

Ia datang lagi. Kenangan lama beralih wujud. Kembali. Sedari pagi lalu kemudian menyentuh malam. Waktu tidak terasa. (Menemani) rekaman.

IMG_8314

Hal-hal bagus memang menghampiri, untuk kemudian bisa kembali ke titik ini.

Melihat dan mendengar dari dekat adalah keberuntungan. Bahaya memang kalau kualitas sudah dipendam dan dipupuk sejak puluhan tahun yang lalu. Sekalinya keluar, cenderung tidak bisa dihentikan apinya.

Ya dinikmati saja. Toh, bisa memainkan banyak peran di dalamnya. Perjalanan masih banyak, ini baru dimulai. Majulah beberapa langkah sejak titik awal beberapa bulan yang lalu.

Ini konstan. Semoga tidak pernah melambat. (pelukislangit)

26 Agustus 2016
19.25
Kua Etnika Studio
Untuk: AriReda

View original post

Posted in Uncategorized | 1 Comment

What do I know of this instrument?


🙂

the cello chronicles

Now, having my own cello, suddenly I realized that I know almost nothing about cello. I even misspelled a part of this instrument. That’s so embarrassing. More to that: I glued a picture of violin, yes VIOLIN, in my journal instead of a cello. My goodness: what did I think when I did that. Apparently I didn’t think at all.

string-instruments

I made some corrections on this violin image, to make it looked like a cello. Still that’s not the right picture. Oh, my!

My cello, she has an Italian name: Stabioni (I might make another mistake for this –sigh). Regardless the name that sounds so Italian, my cello’s made in China. It also has a family name, which makes you know this is not an Italian cello: TABIONA. So her name’s Stabioni Tabiona. Yes, it’s a bit too much for an Italian cello, right?

But who cares? Since I will…

View original post 750 more words

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Melayani Ego


Felix Dass | felix@felixdass.com

IMG_3309

Di dalam sebuah perjalanan, kenyamanan menjadi salah satu perhatian utama. Jika keadaan tidak memaksa, pilihan biasanya menjadi banyak. Tentunya, ia keluar dengan berbagai macam konsekuensi yang harus dituntaskan di balik layar. Ada aksi dan reaksi. Dan ia mengikat.

Melintasi benua dan laut yang terbuka luas adalah petualangan yang harus ditunaikan secara reguler. Suara-suara pemberitahuan dari mereka yang diam jadi teman baik selama beberapa jam. Mana yang relevan, itu yang harus disaring. Menanti itu biasa, tapi jangan sampai dinanti.

Jeda juga perlu. Dan di dalamnya bersemayam kemungkinan-kemungkinan yang tidak muncul setiap hari. Di sanalah kemudian peluang ada untuk ditangkap.

Berjalan saja, terus berjalan. Tapi, jangan lupa berhenti untuk sesuatu yang disukai. (pelukislangit)

8 Juni 2016
22.08
KLIA2 – Menunggu pesawat D7206

View original post

Posted in Uncategorized | Leave a comment