‘Mong-Omong


Saya punya sepoci teh.
Mari kita nikmati bersama di beranda.
Mengobrol kita sambil menyambut malam.

***

Saya ingat jaman kecil dulu, sebelum sekolah, ada seorang teman yang selalu meneriaki saya Cino Asu! (Cina Anjing!) setiap kali saya lewat di depan rumahnya.

Tak senang dengan kelakuannya, saya putuskan untuk menghadapinya. Pulang dari “hadap-hadapan” itu, saya kena marah dari Mak. Saya tak terima. Tapi jawaban
Mak membuat saya diam.
Katanya, “Lho bapakmu memang Cina. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang tidak bisa dibenarkan adalah teriakan yang menempel sesudahnya: “asu”.
Mak membuat saya memahami itu. Bapak saya memang orang Cina.
Ok, got it, Mak!

*
Saya sempat lupa perihal Cino atau bukan Cino sampai pada satu ketika saya berkenalan dengan seseorang kakak kelas. Dia bertanya saya orang apa. Dengan tenang saya bilang, bapak saya Cina. Tangan saya yang sudah terulur, dibiarkannya mengambang di udara. Dia berbalik badan dengan mengumpat, “Hah, Cina!”

Saya masih ingat seperti apa rasa yang muncul saat itu.
Sekarang sudah tak lagi menyakitkan seperti dulu, ketika pertama kali mendengarnya. Tapi cukuplah buat catatan bahwa peristiwa itu pernah ada.

Pengalaman itu membuat saya akhirnya perlu waktu agak panjang untuk menjawab pertanyaan sederhana, “Kamu orang mana?”

Kalau yang bertanya berkulit coklat dan bermata besar, saya akan menjawab orang Timor. Kenapa tidak Sabu – suku Mak saya? Saya malas menerangkan karena setiap kali menyebut Sabu, tak ada yang tahu di mana letak pulau itu. Geser sedikit ke Sumba, yang dikenal malah Sumbawa. Pasti waktu membahas NTT, banyak yang absen.

Jadi timbang ribet saya mengaku Timor saja. Kalau kemudian mereka membahas mata saya yang kecil, saya bilang ayah saya orang Sunda. Atau Menado. Dikira anak orang Batak? Saya iyakan saja. Kalau diajak bicara bahasa suku yang saya akui itu, saya bilang saya lahir di Jakarta. Tidak bisa bahasa sana. Saya menyiapkan banyak alasan untuk tidak mengaku orang Cina. Suku bapak saya itu. Kalau yang bertanya berkulit putih bermata sipit, saya akan menjawab, “Sama kayak kamu.” Biasanya dilanjutkan dengan pertanyaan lagi, “Kok gak putih?”
“Kebanyakan main di matahari,” itu alasan saya.

Ribet.
Memang.
Tapi –saya pikir- ini adalah cara yang saya temukan untuk menjaga perasaan sendiri. Pengalaman mengajarkan bahwa menjadi anak orang Cina itu tidak enak.

Di SMA, saya lupa kalau saya ini Cina. Saya juga tak merasa perlu menjelaskan letak pulau Sabu di mana. Teman-teman saya yang lain juga tidak peduli saya orang apa. Tidak penting karena tidak sempat. Di masa itu, saya dan teman-teman terlalu sibuk berkonsentrasi pada pelajaran dan bersatu-padu menghadapi kepala sekolah yang –waktu itu—rasanya galak banget.

Tapi masuk universitas, saya kembali diingatkan pada darah campur di badan saya ini beserta segala konsekwensi yang terkait di dalamnya. Urusan administrasi. Untuk masuk UI, saya perlu akte lahir, surat ganti nama juga.
Ini gara-gara nama saya di akte kelahiran mengandung nama lama Pak: Thio. Sialnya surat ganti nama tak ada. KTP sudah Gaudiamo. Bagaimana ini?

Saya hampir melepas kesempatan kuliah gara-gara surat itu. Malas membayangkan proses pembuatan surat yang sudah kadaluwarsa itu. Mak tak sepakat. Dia memaksa saya jalan terus.
“Sudah susah-susah ikut tes, lulus, main tinggal saja. Nggak bisa!”

Tapi surat-suratnye pegimane nih, Mak? Dikasih yang ade, jadi ribet. Kagak dikasih pasti ditagih.

“Pakai KTP-mu saja. Kalau perlu bawa ijazah SD, buat jaga-jaga,” katanya.
“Akte kelahirannya?”
“Bilang tidak punya.” Lho? Bisa begitu?
“Coba lihat formulirnya!” Saya baca sekali lagi kolom-kolom yang perlu diisi. Ada kotak INDONESIA dan WNI. Di samping WNI ada keterangan menyertakan akte kelahiran, KTP, surat ganti nama dll. Sementara di kotak Indonesia hanya ada catatan menyertakan fotokopi KTP. Akte kelahiran tidak diminta!
“Kamu, orang Indonesia. Warga Negara Republik Indonesia,” kata Mak sambil mencontreng kotak Indonesia. Selesai.
Mak memang tiada dua.

Sejak hari itu, setiap kali mendapat pertanyaan –Kamu orang apa—saya pakai jawaban Mak ini : Orang Indonesia! Hanya pada teman-teman dekat saya menjelaskan perihal suku ini, kalau mereka bertanya.
Satu teman dekat saya, pernah bertanya dengan muka sangat heran, “Kok kamu ngaku Cina, sih?”
“Memangnya kenapa?”
“Nanti hidupmu repot, lho!” katanya dengan suara iba. Punggung saya ditepuk-tepuknya juga.
“Semoga tidak.” Saya yakin: rejeki, nasib baik, tidak tergantung pada suku dan warna kulit dan besar kecil ukuran mata.

Tetapi urusan Cina ini ternyata masih belum tamat juga.

Pada suatu malam –saat itu saya dan pacar sudah akan menikah—kami bertandang ke rumah seorang teman. Ngobrol punya ngobrol, ternyata waktu sudah lewat tengah malam. Teman yang kami datangi itu menggelar tikar. Saya berbaring di situ, sementara pacar saya –yang sekarang sudah jadi suami—meneruskan obrolan.
Namanya bukan rumah sendiri, saya tak bisa segera lelap. Di saat itulah terdengarlah percakapan yang membuat saya kehilangan rasa kantuk….
“Mbul, kamu serius sama Reda?”
“Oh, iya.”
“Kamu nggak mau pikir-pikir lagi?” badan saya mendadak terasa kaku. Ada apa ini?
“Kenapa memangnya?” Itu pertanyaan saya juga.
“Kamu tahu dia Cina kan?” Astaga!
“Oh, tahu sekali!”
“Kamu nggak apa-apa kalau dia Cina?” Memangnya kenapa?
“Nggak apa-apa. Kenapa rupanya?”
Pertanyaan tak dijawab. Teman yang bertanya itu beranjak ke dapur. Katanya mau ambil minum.

*
Menurut saya—Mak lah penyebab munculnya urusan per-Cina-an ini.

Sungguh deh, kalau saya bekerja di bagian administrasi bidang perjodohan di langit sana, Mak sudah saya jauhkan dari Pak sejak sebermula mereka berkenalan. Kalau perlu tak usah kenalan.
Pilihan hati Mak membuat Cina dan bukan jadi sesuatu yang tak berkesudahan dibahas. Dari begitu banyak laki-laki yang menjadi sahabatnya, Mak memilih Pak yang Cina kelahiran Banda Aceh ini. Bukan sahabat sekampung. Bukan teman belajarnya asal Jogja. Bukan juga kenalan dari Australia atau Amerika. Dia memilih laki-laki bermata sipit, berambut lurus seperti sikat, berkulit putih menjadi suaminya. Jadi bapak saya dan tiga adik saya. Mak tak peduli bapaknya kurang setuju, dan ibunya menangis karena pilihan hatinya.
Begitulah Mak: Ia tak pernah kenal kata “ragu”.

*
Ketika kami mulai besar, dan televisi menjadi hiburan utama di rumah. Satu ketika saat melihat tayangan tentang dunia bisnis, Mak berkomentar, “Orang-orang Cina ini merasa dirinya superior ya? Segala mau dikuasai!” Pak ada di sana, duduk di sebelah Mak. Mengangguk-angguk sepakat.

Ketika yang lain, melihat saya yang tak juga menyelesaikan skripsi, Mak bersuara, “Anak Cina yang di rumah ini kok nggak ada ulet-uletnya sama sekali, ya? Bagaimana mau maju? Bisa cari uang nggak nanti?” Pada saat itu, Pak juga ada di sebelah Mak. Senyum-senyum dia.

Kau dan pilihanmu itu, Mak ☺

*
Saya menikah dengan pacar yang sempat diinterogasi temannya itu. Dia orang Jawa. Kami punya seorang putri yang selalu menyebut dirinya orang Indonesia raya. Kalau ada yang ingin tahu lebih jauh, ia jelaskan darah apa saja yang ada di tubuhnya. Ia bangga ada darah Cina di tubuhnya.
Penting buat cari duit, katanya. I see!

***

Mari, saya tuangkan teh ke cangkirmu.
Kita nikmati hangat dan wanginya di beranda.
Malam sudah datang sejak tadi.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Cemara


1509907_10151841684647984_802612712_n

Di halaman rumah, ada pohon cemara.
Daunnya halus, melambai-lambai setiap ditiup angin. Aku suka mengambil daunnya, diiris-iris jadi sayuran kalau buat pecel. Bumbunya, dari tanah liat, diulek pakai cobek dan ulekan dari tanah liat. Dibeli Mak di Pasar.

Farida paling suka buat bumbunya. Dia suka mengulek.
Aku yang membuat sayurnya.

Kadang-kadang, Mak menggunting satu dua ranting cemara, lalu dimasukkan ke dalam botol kaca berisi air. Di botol itu juga dimasukkan satu atau dua tangkai bunga seperti kertas. Warnanya merah muda. Kata Mak, namanya Oleander. Botol berisi daun dan bunga diletakkan di meja. Besoknya, bunga dibuang karena warnanya jadi coklat, lembek-lembek dan baunya tidak enak. Tapi daun cemara tetap di dalam botol. Bunga baru dimasukkan ke botol, menemani daun cemara sampai beberapa hari lagi.

Suatu hari, Mak ambil gergaji, dan potong satu batang cemara, ditanam di ember kaleng berisi tanah, diberi kotoran kambing yang diberi oleh ibunya Farida, lalu disiram. Setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah, aku siram ember kaleng berisi batang pohon cemara itu. Sore, sehabis mandi, aku siram juga. Mak bilang, supaya batang cemara bisa kuat, dan jadi pohon baru. Mula-mula daun-daunnya agak layu. Tapi setelah beberapa hari, daunnya bangun lagi. Tidak tidur dan lesu.

Pada suatu hari Minggu, Mak bilang batang cemara di ember sudah kuat, sudah ada akarnya. “Nah, karena sudah kuat, kita bisa bawa masuk ke dalam rumah,” kata Mak.
“Kenapa, Mak?”
“Karena mau kita jadikan pohon natal.” Oh! Di rumahku ada pohon natal?
“Seperti di gereja? Dihias-hias, Mak?”
“Ya, kita buat sendiri hiasannya.” Wah, bagaimana caranya?
“Aku boleh ajak Farida?”
“Kalau dia mau, boleh.”
“Sekarang, Mak?”
“Ya. Tapi lihat-lihat dulu, ya. Kalau Farida sedang bantu ibunya, jangan ajak ke rumah.”
“Ya, Mak.” Aku langsung berlari ke rumah Farida. Oh, ternyata dia sedang injak-injak punggung Ibunya yang berbaring di tikar, yang digelar di lantai di depan rumahnya.

“Eh, ada Willa, tho?” ibunya mengangkat kepala dari bantal.
“Ya, Bude.” Aku selalu panggil ibunya Farida dengan Bude. Seingatku, semua orang memanggilnya Bude.
“Mau ajak Ida main?”
“Aku mau buat pohon Natal, Bude.”
“Buat pohon Natal? Kapan?” Ida langsung bertanya, dan kakinya seketika berhenti menginjak-injak badan ibunya.
“Sekarang.”
“Boleh, Mak?” Ida bertanya pada ibunya yang sekarang sudah mengangkat kepalanya.
“Mau hias-hias pohon Natal, Willa? Oya, sebentar lagi Natal. Sana, kalau mau ikut,” katanya sambil menggoyangkan punggungnya. Ida melorot dari betis ibunya, dan langsung berdiri di sampingku, “Ayo!” katanya sambil menarik tanganku. Bergandengan tangan kami lari ke rumahku.

Di rumah, di ruang tengah, Mak sudah menunggu di samping meja makan yang penuh dengan potongan kertas mengkilap, karton bekas kardus, kertas-kertas kalender. Ada juga gunting, benang, lem, ada pensil warna, ada botol-botol kecil, di dalamnya ada bedak warna-warni. Ada kapas bulat-bulat. Ada kobokan, serbet.

“Sudah siap?”
“Siap, Mak!”

Sampai sore aku, Farida dan Mak bekerja di meja makan. Menggambar, menggunting, menempel, mewarnai. Bedak-bedak warna-warni itu, kata Mak namanya kesumba, buat mewarnai kue. Aku buat awan, bintang, bola-bola, kotak. Farida buat daun, bunga. Mak buat ayam, kucing. Semua digantung di dahan-dahan kecil pohon. Habis itu, kami cuci tangan. Meja dibersihkan.

Maghrib.
Farida harus pulang. Mandi dan siap-siap sembahyang.
Aku dan Mak menunggu Pak yang akan pulang sebentar lagi.

*satu episode dari NaWilla 2

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Metronom


Felix Dass | felix@felixdass.com

Ia datang lagi. Kenangan lama beralih wujud. Kembali. Sedari pagi lalu kemudian menyentuh malam. Waktu tidak terasa. (Menemani) rekaman.

IMG_8314

Hal-hal bagus memang menghampiri, untuk kemudian bisa kembali ke titik ini.

Melihat dan mendengar dari dekat adalah keberuntungan. Bahaya memang kalau kualitas sudah dipendam dan dipupuk sejak puluhan tahun yang lalu. Sekalinya keluar, cenderung tidak bisa dihentikan apinya.

Ya dinikmati saja. Toh, bisa memainkan banyak peran di dalamnya. Perjalanan masih banyak, ini baru dimulai. Majulah beberapa langkah sejak titik awal beberapa bulan yang lalu.

Ini konstan. Semoga tidak pernah melambat. (pelukislangit)

26 Agustus 2016
19.25
Kua Etnika Studio
Untuk: AriReda

View original post

Posted in Uncategorized | 1 Comment

What do I know of this instrument?


🙂

the cello chronicles

Now, having my own cello, suddenly I realized that I know almost nothing about cello. I even misspelled a part of this instrument. That’s so embarrassing. More to that: I glued a picture of violin, yes VIOLIN, in my journal instead of a cello. My goodness: what did I think when I did that. Apparently I didn’t think at all.

string-instruments

I made some corrections on this violin image, to make it looked like a cello. Still that’s not the right picture. Oh, my!

My cello, she has an Italian name: Stabioni (I might make another mistake for this –sigh). Regardless the name that sounds so Italian, my cello’s made in China. It also has a family name, which makes you know this is not an Italian cello: TABIONA. So her name’s Stabioni Tabiona. Yes, it’s a bit too much for an Italian cello, right?

But who cares? Since I will…

View original post 750 more words

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Melayani Ego


Felix Dass | felix@felixdass.com

IMG_3309

Di dalam sebuah perjalanan, kenyamanan menjadi salah satu perhatian utama. Jika keadaan tidak memaksa, pilihan biasanya menjadi banyak. Tentunya, ia keluar dengan berbagai macam konsekuensi yang harus dituntaskan di balik layar. Ada aksi dan reaksi. Dan ia mengikat.

Melintasi benua dan laut yang terbuka luas adalah petualangan yang harus ditunaikan secara reguler. Suara-suara pemberitahuan dari mereka yang diam jadi teman baik selama beberapa jam. Mana yang relevan, itu yang harus disaring. Menanti itu biasa, tapi jangan sampai dinanti.

Jeda juga perlu. Dan di dalamnya bersemayam kemungkinan-kemungkinan yang tidak muncul setiap hari. Di sanalah kemudian peluang ada untuk ditangkap.

Berjalan saja, terus berjalan. Tapi, jangan lupa berhenti untuk sesuatu yang disukai. (pelukislangit)

8 Juni 2016
22.08
KLIA2 – Menunggu pesawat D7206

View original post

Posted in Uncategorized | Leave a comment

#StillCrazyAfterAllTheseYearsTOUR – Day 1 & 2


foto bg 1Tur Konser AriReda berlangsung dan telah selesai Kamis malam, di Makassar, 19 Mei 2016. Tepat seminggu setelah dimulai pada tanggal 13 Mei, 2016 di coffeewar, Jakarta.

Rencananya saya ingin membuat catatan setelah habis main di setiap titik. Mumpung semua peristiwa masih tergambar jelas, apa daya setiap kali habis main, sudah terlanjur lapar dan lelah dan mengantuk. Sehingga menulis jadi terlewatkan. Akhirnya, setelah kembali pada jam kerja pegawai, waktu untuk menulis datang juga. Mari kita mulai dari kota pertama.

Jakarta: coffeewar
Jumat itu, langit bersih seperti hari sebelumnya. Sekolah di depan rumah saya tak ada keramaian. Suara Pak Kepala Sekolah lewat TOA di upacara pagi yang biasa mengingatkan saya untuk segera berangkat, tak terdengar. Sepi. Tapi hati saya gemuruh sejak entah kapan. Penyebabnya cuma satu: #StillCrazyAfterAllTheseYears dimulai malam ini, di coffeewar, Kemang Timur. Tempatnya Yogi D. Sumule.

Mengapa coffeewar? Begini, sekitar delapan sembilan tahun lalu, seorang teman – Dik Ewink– minta saya menemui sahabatnya. Hari dan jam ditentukan, Ewink malah tak bisa hadir. Maka saya sendiri menemui temannya: Yogi D. Sumule. Ia bercerita banyak tentang kopi, tentang lagu puisi, dan berakhir dengan mengajak AriReda bermain di coffeewar. Tawarannya tak serta merta disambut, karena satu dan lain hal yang belum beres pada kami berdua. Baru setelah lewat tiga tahun, AriReda main di sana. Dan di tempat ini pula kami mulai berkenalan dengan teman-teman baru, muda yang begitu antusias pada lagu-lagu kami. Energi dan kehangatan yang terus dipancarkan coffeewar membuat kami mulai berpikir untuk lebih sering bermain.

Kembali urusan tur, Ari sudah bersiap sejak jam 3 siang di coffeewar. Sementara saya baru sampai sekitar jam 5 sore, setelah naik ojek dari kantor (tak ingin kehabisan hari cuti, saya putuskan mengantor full hari itu). Setiba di coffeewar, sudah ada Agus Leonardi yang membantu mengatur sound. Felix menguasai meja terbesar, memenuhinya dengan CD EP kami. Sambil menunggu, saya mengisi waktu dengan mengupas kencur dan membantu membungkus CD.

Sore itu, ceritanya, saya janjian dengan Ricky Surya Virgana dari WSATCC. Ada satu kegiatan yang harus saya lakukan bersamanya. Apa daya, saya datang terlalu sore. Sehingga tempat sudah ramai, dan hiruk pikuk. Kegiatan yang satu itu tak terlaksana. Tetapiiiiiii justru dari sini muncul ide lain: mengajak Ricky memainkan cello-nya di satu-dua lagu AriReda. Kami pilih dua lagu: Nocturno dan Lanskap.

Berlatih dalam suasana ramai, memang kurang ideal. Tetapi karena yang berlatih itu dua orang yang punya telinga dan rasa yang tajam –Ari dan Ricky, dua lagu bisa dikuasai dalam waktu super singkat.

Yogi memutuskan membuka semua jendela kaca, tak ada batas ruang sejuk dan hangat, jernih dan berkabut. Semua berbaur. Meja untuk jual CD sudah disiapkan di sudut. Teman-teman berdatangan. Jantung saya makin keras berdebar. Rasanya ia hanya bergantung pada sehelai urat.

Menyanyi di depan penonton sudah kami jalani sejak belum punya pacar sampai punya anak umur 20-an. Sejak dahulu kala juga jantung saya selalu berlompatan ketika waktu semakin dekat. Tapi hari itu, lompatannya agak terlalu berlebihan. Berkali-kali saya harus menghela napas, mencoba menenangkan. Berbagai pikiran berlarian di kepala juga: bagaimana kalau hujan, bagaimana kalau mendadak senar gitar putus, bagaimana kalau suara habis, bagaimana kalau kaki saya menendang cello, bagaimana kalau saya kebelet pipis di tengah-tengah lagu nanti, bagaimana kalau…. Terlalu banyak “bagaimana kalau”. Panik. Parah.

Acara mulai 15 menit lepas jam 8 malam.
Teman-teman sudah duduk manis. Termasuk Mas Gufi dari Kongsi Jahat yang sudah mengambil posisi di sudut teras coffeewar. Yogi dan Felix membuka acara.

Kalau tak salah ingat, kami menyanyikan sekitar 15 lagu, dengan dua di antaranya bersama Ricky Virgana. Hati saya rontok ketika Nocturno dimainkan Ricky. Kacau balau perasaan, mata mendadak panas, wah repot ini! Panjang sedikit, nggak bisa nyanyi! Mati-matian menahan tangis supaya nggak kebablasan, soalnya perjalanan nyanyi malam itu masih panjang. Ingat kata Oprah: “Don’t let the ugly cry take over your face and voice!”

Ricky: kamu keren banget, sih!

Habis menyanyi, Felix mengingatkan bahwa jadwal berangkat dari Cengkareng jam 6.00 dari Cengkareng. Artinya, dari rumah harus jalan jam 4.30. Artinya, tidur harus lebih awal. Artinya, pulang sekaraaaaang! Tapi kegembiraan berkumpul dengan banyak teman, berkenalan dengan teman baru, bertukar cerita dengan teman lama…. Terlalu berat untuk dilepaskan. Alhasil perjalanan menuju rumah baru terlaksana menjelang tengah malam. Ari ikut pulang ke Rawamangun.

Sampai di rumah, ternyata tidak bisa langsung tidur. Baru ingat kalau koper yang sudah disiapkan beberapa minggu sebelumnya, saya bongkar untuk keperluan lain. Cita-cita mengatur pagi hari tadi, tapi bangun kesiangan. Walhasil baru beberes jam lewat 1 pagi. Hanya perlu 15 menit. Masuk kamar tidur jam 2. Bangun 2 jam kemudian. Berat!

Malang: Folk Music Festival
Alarm menjerit, sementara empuk bantal dan hangat selimut memeluk erat, tak ingin dilepaskan. Tapi mana boleh! Kalau sampai ketinggalan pesawat, Gan Felix bisa tirus mendadak. Mas Ed mengantar kami ke bandara yang ternyata sudah ramai di subuh itu.

Untuk perjalanan Malang, Surabaya dan Yogyakarta, kami berangkat berempat: Felix, Ari, Disty Nugroho, dan saya.

Semua lancar kecuali urusan gitar yang ternyata tak bisa masuk cabin (nggak kompak nih aturannya…. Kadang boleh, kadang nggak). Setelah dibebat plastik dan dipasang stiker FRAGILE sebanyak-banyaknya, kami lepaskan gitar masuk bagasi.

Sebetul-betulnya, saya sangat suka terbang di pagi hari begini, karena awan dan matahari di atas sana begitu indahnya. Tapi tanggal 14 pagi itu, dengan rela saya lewatkan pemandangan keren itu. Hasrat melanjutkan tidur lebih mendesak. Mari pejamkan mata.

Tiba tepat waktu, kami diantar ke hotel. Felix dan Ari satu kamar, saya dan Disthy di kamar yang lain. Dari depan Felix sudah bilang, kalau membahayakan teman seranjang, maka ia minta kamar dengan twin bed. Saya dan Disty tak merasa perlu punya twin bed. Disty bilang dia bisa tidur dengan manis. Saya pun (ternyata kenyataannya tidak demikian: saya tetap suka main silat dan merebut selimut sampai Disty nggak kebagian. Sementara AC menyembur kencang, bikin dingin. Maafkan.).

Karena tiba agak awal, kami bisa menyambung tidur sedikit sebelum cek sound. Bangun dengan perut agak lapar, kami berangkat ke Lembah Dieng. Wah cantiknya! Panggung menghadap tempat duduk bertingkat –amphitheater style. Kabarnya bisa muat sampai 5 ribu orang. Bukan main.

Habis cek sound, setelah makan nasi-sayur bening-gereh-tempe-sambel tomat yang juara rasanya dan ngobrol sebentar dengan Bie dan Vania dari Wake Up Iris, kami kembali ke hotel. Mandi (sambil mencuri tidur beberapa belas menit) lalu berangkat lagi.

Panggung Folk Music Festival di Lembah Dieng mulai terisi. Ketika kami datang, lebih dari sepertiga tempat duduk terisi. Sedikit-sedikit yang menonton bertambah. Sambil menanti, kami berkenalan dengan Herman yang datang khusus dari Palangkaraya untuk acara ini. Dia dititipi banyak pesanan teman-temannya yang tak bisa datang. Bukan main.

Sarita dari Teman Sebangku menemani mengobrol juga sebelum kami naik panggung.

Kami main setelah Little Lute yang seru.
Kalau boleh saya ingin duduk di tengah penonton saja, menikmati setiap sajian di panggung. Semua keren! Waktu naik panggung kian dekat, saya mendadak ingin pulang. Lutut dingin. Jari-jari bergetar. Bahaya. Tiang di tepi panggung saya peluk erat-erat. Pengen pulang saja rasanya.

Giliran kami tiba.
Intro Hujan Bulan Juni mengalun. Tiba-tiba tepuk tangan menggema.
Kami naik panggung. Menyapa Malang. Menyanyi entah berapa lagu, lupa. Dari panggung saya bisa melihat Sarita, Vania dan Herman beserta teman-temannya menemani kami menyanyi. Yang menonton sudah bertambah banyak, dan terus bertambah. Felix bilang saat itu sudah mencapai 1500-an orang. Jumlah penonton terbesar buat kami. Beberapa kepala menempel. Ada banyak kepala dan lengan menyangkut di bahu kekasih. Lamat-lamat terdengar suara teman-teman yang menonton ikut menyanyi. Banyak yang menutupkan mata, bibir bergerak-gerak menyebutkan syair. Ah, bahagianya kami sore itu.  Tak terhingga jumlah teman-teman baru yang kami temui di sini. Termasuk Cecilia dan Richie yang datang jauh-jauh dari Kuala Namu. Saya tak ingat berapa lagu yang kami nyanyikan.  Terlalu senang sampai tak menghitung (setlist berantakan sejak lagu ke tujuh).

Terima kasih Malang.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Tentang Tur Pertama Ini….


poster turBetul, Ari Malibu dan saya –Reda Gaudiamo- akhirnya berangkat tur. Untuk yang pertama kali dalam sejarah duet kami sejak terbentuk banyak tahun lalu.

http://www.malesbanget.com, memberi judul begini: Edan, Di Usia Kepala 5, Dua Musisi Malah Memulai Tur Nonstop 6 Kota!
(http://malesbanget.com/2016/05/edan-di-usia-kepala-5-dua-musisi-malah-memulai-tur-nonstop-6-kota/)

Membaca judulnya, saya jadi deg-degan. Mules.
Tiba-tiba saya disadarkan bahwa kami memang akan berangkat tur, ke enam kota, non-stop. Ini kegiatan kami mulai tanggal 14 Mei nanti: Berangkat→ Tiba→ Cek Sound→Main→Tidur→ Berangkat lagi → Tiba lagi → Cek Sound lagi → Main lagi→ Tidur… Begitu terus selama 6 hari.

Oh, sebentar, sebelum berangkat tanggal 14 Mei, malam sebelumnya, yaitu malam ini: 13 Mei, kami akan main dulu di CoffeeWar, sebagai konser pertama dari tur ini. Buat kami berdua, CoffeWar selalu jadi tempat istimewa. Karena di sinilah kami memutuskan untuk terus menyanyi. Di sini juga, kami akhirnya sepakat bahwa apa yang sudah kami mulai harus dilanjutkan. Adalah Yogi D. Sumule yang membantu kami melihat semua itu. Pintu kedainya yang selalu terbuka, wangi kopi yang selalu menyambut, kehangatan yang tak pernah putus membuat kami sadar bahwa ini bukan perjalanan iseng-iseng. Bahwa duet ini memang perlu dilanjutkan.

Kami berhutang pada banyak orang, teman-teman yang sempat mendengar, menyimak dan menyukai apa yang kami lakukan bertahun lalu. Bila tiba-tiba kami berhenti, dan memutuskan untuk menyudahi semua, berarti kami sudah menjadi orang paling egois yang pernah kami kenal. Walk on, we must.

Apa yang sudah kami mulai pada suatu ketika, yang sempat kami sendiri ragukan, tiba-tiba tumbuh, meninggi dan sebaiknya dibiarkan terus tinggi. Untuk itulah, kami memutuskan melakukan banyak hal. Mulai dari lebih sering bermain di tempat-tempat anak muda berkumpul, membuat rekaman album baru, show di Jerman dan Belanda, kemudian konser perdana atas nama AriReda, dan sekarang tur ke enam kota: Jakarta – Malang – Surabaya – Jogjakarta – Denpasar – Makassar.

Perjalanan cukup panjang bila dihitung jarak kilometernya. Felix Dass, yang mengatur semua ini, menulis di blog AriReda, bahwa tur direncanakan ketika ia sedang berlibur. Kelihatannya begitu nyaman. Tetapi saya tahu dan percayalah itu bukan hal gampang. Bahwa semua terjadi dalam waktu dekat, itu karena ada Felix menghubungi semua temannya, karena ada jaring saling silang yang mengikat semua pihak dalam nama musik Tanah Air. Tanpa itu semua, tur ini tak akan berlangsung. Banyak orang baik mengelilingi…. Terima kasih untuk kasih sayang yang diberikan tanpa henti ini. Friends: you are awesome!

Sekarang di hadapan poster tur yang sudah dicetak, album EP selesai diduplikasi, merchandise tertumpuk rapi di koper: debar jantung saya mendadak kencang. Saya –dan juga Ari Malibu—disadarkan bahwa ini bukan kegiatan lucu-lucuan di waktu luang sehabis kerja dan memanfaatkan cuti kantor yang tidak banyak lagi. Tur ini adalah keputusan besar yang akan diikuti dengan keputusan-keputusan lain yang tidak kalah besar dan panjang. Debar jantung yang mendadak kencang ini, saya nikmati dengan sungguh.

Someone just popped up a question: “But why now?”
And I heard myself saying: “Why not? Now is the best time.”

Posted in Uncategorized | 3 Comments